Pengambilan Pelajar Baru

Pengambilan Pelajar Baru

Asrama Lelaki

Asrama Lelaki

Banguan B (kelas)

Banguan B (kelas)

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Sabtu, 30 November 2013

Kenapa Pusat Dakwah Di India? Tidak Di Tanah Arab?



Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.
Assalamumualaikum wr. wb.
Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak Nabi lahir di kalangan bani israil, dan memang dari turunan Nabi Ishak As ini sangat banyak Nabi. Sedangkan dari Nabi Ismail As hanya satu Nabi saja, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman.
Ummat Islam ini bukan hanya berada di arab, tetapi sudah sangat tersebar ke berbagai negara. Semua sejarah mencatat dengan baik perihal dakwah, Abi Waqash RA sampai ke negera Cina. Atau kisah-kisah lainnya. Kita boleh bayangkan dengan pikiran yang normal, tanpa ada pesawat atau kendaran yang sangat hebat saat itu, tetapi kaum muslimin telah menembus negara-negara untuk menyampaikan agama Islam yang mulia ini. Jika kita perhatikan daratan yang ditempuh, gunung yang tinggi dan suhu yang dingin, tetapi mereka terus bergerak ke negara-negara jauh. KERANA SEMANGAT APA yang menjadikan mereka berani meninggal tanah air dengan waktu yang sangat panjang itu. Hal ini boleh terjadi karena FIKIR yang menjunam ke dalam diri mereka seperti mana FIKIR NABI untuk menyebarkan Islam keseluruh daerah dan tempat. Apa FIKIR NABI itu? Allah swt dengan jelas dan lugas menjelaskan fikir dan kerisauan beliau itu dalam ayat Al-quran sendiri.
Perhatikan dengan ayat At-Taubah terakhir 128-129:
Sesungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung. (At-Taubah: 128-129).
Para Shahabat RA dan juga para Ulama dulu sangat memahami perihal risau ini, mereka ini menyelami kisah Nabi bagaimana ke thaif, mereka ini menyelami kisah Nabi ketika mengajak kaumnya sendiri di mekkah, mereka ini menyelami bagaimana hijrah Nabi ke Madinah, bagaimana keluarganya sendiri ada yang menghina dan mau merencanakan membunuhnya. PADAHAL apa yang diinginkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang mulia ini. Sebuah keselamatan dan keimananan bagi ummat manusia. Nabi kita bukan mahu harta yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi para Sahabat dan juga para Ulama berani untuk keluar berdakwah jauh untuk menyebarkan Islam ini dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Silahkan pelajari kisah-kisah penyebaran Islam ke Malaysia, dan terutama dengan kehadirannya orang-orang Arab di Malaysia. Kalangan Arab ini sangat berperanan dalam penyebaran Islam, dan menurut sejarah banyak dari kalangan Hadramaut yang ke Malaysia.
Kemajuan kaum muslimin di zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat RA yang signifikan yaitu setelah ditetapkannya tempat berhimpun dan menjalankan aktiviti ijtimaiyyah kaum muslimin. Masjid ini yang menjadi titik Utama di Zaman itu. Bahkan banyak penjelasan kaum muslimin dapat dilihat dari kedatangannya ke masjid. Dan banyak ayat dan juga hadist yang menjelaskan keutamaan terhadap masjid ini. Jika Allah swt dan juga Nabi kita menekankan pentingnya masjid, maka tentunya masjid ini mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Kita dapat mempelajari perihal keutamaan masjid dalam kitab yang ditulis para Ulama.
Sehingga siapapun di dunia ini yang dapat menjalankan aktiviti-aktiviti masjid itu dengan baik seperti mana yang terjadi di zaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan terutama dengan aktiviti dakwah Islam, kerana dakwah Islam ini mempunyai menampakkan perubahan dari tidak taat menjadi taat kepada perintah Allah s.w.t.. Kita kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar. Dari jelas dakwah itu merupakan aktiviti untuk melakukan perubahan dari yang tidak diredhoi menjadi yang diredhoi Allah swt. Sehingga jika daâkwah ini dijalankan di masjid, maka dengan sendirinya kesan masjid itu akan masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin. Dan dakwah ini tidak mungkin dijalankan kecuali dengan ijtimaiyyah jika dilakukan di masjid kita.
Ada satu ayat yang sebenarnya cukup penting dipelajari dengan baik, bagi kaum muslimin yang menjalankan aktifitas dakwah ini,

yaitu Ali-Imran:104. Dalam ayat ini terdapat kata waltakum minkum .. terdapat dua penjelasan terhadap ayat ini oleh kalangan Ulama yaitu Membentuk sebagian dari kaum muslimin dan membentuk Ummat Islam sebagai Ummat Dakwah ... Tetapi keduanya pada prinsipnya adalah sama untuk mendorong aktiviti dakwah itu sendiri. Yang namanya membentuk .. tentunya mencetak atau menjadikan seseorang menjalankan usaha dakwah. Jika dilakukan di masjid, maka secara kemestian perlu dilakukan tertibnya atau panduannya dengan baik. Dalam hal ini kita sendiri dapat menyusun cara yang sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
Masjid Nabawi di Arab belum menjadikan sebagai pusat dakwah, tetapi masih dijadikan sebagai pusat pengajaran dan pendidikan (taklim) Islam. Kerana tentunya para Ulama sendiri sangat memahami apa pengaruh (efek) dari dakwah itu sendiri. Dakwah itu akan memberikan perubahan ke setiap lingkungan masyarakat, dan tentunya akan memberikan impak yang kuat untuk orang ramai untuk berdatangan ke masjid itu sendiri. Kaum muslimin sekarang juga datang ke masjid Nabawi, itupun sebenarnya kerana pengaruh dakwah (ajakan) meskipun caranya mungkin dari kata-kata ringan. Sehingga banyak juga kaum muslimin akhirnya untuk belajar di masjid Nabawi. Tetapi jika menjadikan pusat dakwah, maka akhirnya akan disebarkan ke berbagai negeri untuk menyebarkan Islam. Dan nantinya secara sendiri akan banyak orang datang ke masjid Nabawi ini, dan seterusnya kembali menyebarkan Islam. Dan akhirnya menggerakan semua aktifitas lainnya, seperti taklim, ibadah dan juga khidmat atau muamalat.
Waktunya akan datang, para Ulama di arab sendiri terutama yang mendukung kuat usaha dakwah dan tabligh seperti Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi juga merupakan orang yang sangat paham tentang usaha dakwah, tetapi perlu mempertimbangkan dengan hikmah dan dalam. Oleh karena itu beliau sendiri hanya menjelaskan ketika ditanya usaha dakwah di masjid itu, bahwa usaha dakwah ini merupakan mutiara di akhir zaman. Jadi pengaruh dakwah dan taklim sangat berbeza hasilnya. Waktunya akan datang dengan sendirinya, ketika sudah siap semuanya. Jika tidak, maka akan sangat mudah dihancurkan dakwah ini oleh musuh-musuh Islam itu sendiri. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa tentang perahu merupakan pelajaran terpenting bagi kalangan ahli dakwah, agar semuanya berjalan dengan sederhana dan maju. 
Dan Maulana Ilyas Rah beliau mula dari masjid yang sangat sederhana di daerah Nizamuddin, dan sekarang tersebar ke seluruh dunia bahkan tembus negara-negara Eropa, Amerika dan lain-lain. Bahkan beberapa tahun yang silam kaum muslimin Inggris sangat berkeinginan membangun masjid markaz ini menjadi masjid yang indah dan besar, dan hal ini disampaikan kepada maulana Inamul Hasan Rah, tidak dapat diiizinkan oleh beliau. Dan bahkan beliau mendorong untuk membangun masjid besar dan megah di England sendiri, dan hari ini menjadi perbincangan di England akan menjadi masjid terbesar di Eropah yang dibangun kalangan dakwah dan tabligh. Dorongan Maulana Inamul Hasan Rah itu sekitar 15 tahun yang lalu.
Kita boleh berkeinginan dan merencanakan. Tetapi juga kita harus menyakini bahwa Allah swt sendiri mempunyai rencana. Maulana Ilyas Rah hanya sebagai asbab saja untuk kaum muslimin, tetapi sebenarnya semua tertib itu telah tertulis dengan baik oleh para ulama dulu. Dan beliau ini hanya merongkai dari sumber-sumber itu yang saling berkaitan untuk menjadi sebuah model metoda dakwah dan tabligh, dan sekarang ijtihad itu telah banyak memberikan kesan dan pesan ke seluruh dunia, termasuk di kalangan orang arab sendiri termasuk para Ulama. Dan jika banyak mempelajari siapa Maulana Ilyas dan keluarganya. Kita akan mengetahui bahawa mereka juga merupakan turunan dari kalangan para Shahabat RA.

Jumaat, 22 November 2013

Kisah Abu Jahal Hendak Membunuh Nabi S.A.W



Setelah pelbagai usaha oleh kaum Quraisy untuk menyekat dan menghapuskan penyebaran agama Islam telah menemui kegagalan, maka Abu Jahal semakin benci terhadap Rasulullah S.A.W. Kebencian Abu Jahal ini tidak ada tolok bandingnya lagi, malah melebihi kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah S.A.W.

Melihatkan agama Islam semakin tersebar, Abu Jahal pun berkata kepada kaum Quraisy di dalam suatu perhimpunan, "Hai kaumku! Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ini adalah kerana dia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kamu sekalian, bahawa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dibalingkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserahlah kepada kamu semua sama ada mahu menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya. Biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa yang mereka sukai."

Tatkala mendengar jaminan daripada Abu Jahal, maka orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu berkata secara serentak kepadanya, "Demi Tuhan, kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad. Teruskan niatmu."

Orang ramai yang menghadiri perhimpunan itu merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahawa dia akan menghapuskan Muhammad kerana jika Abu Jahal berjaya menghapuskan Nabi Muhammad S.A.W bererti akan terhapuslah segala keresahan dan kesusahan mereka selama ini yang disebabkan oleh dakwah Rasulullah S.A.W menyebarkan agama Islam di kalangan mereka.

Dalam pada itu, terdapat juga para hadirin di situ telah menyiapkan perbelanjaan untuk mengadakan pesta sekiranya Nabi Muhammad S.A.W berjaya dihapuskan. Pada pandangan mereka adalah mudah untuk membunuh Nabi Muhammad S.A.W yang dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Esa serta sekalian penghuni langit. Padahal Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kekasihnya diancam dan diperlakukan seperti binatang.

Dengan perasaan bangga, keesokan harinya di sebelah pagi, Abu Jahal pun terus pergi ke Kaabah iaitu tempat biasa Nabi Muhammad S.A.W bersembahyang. Dengan langkahnya seperti seorang pahlawan, dia berjalan dengan membawa seketul batu besar di tangan sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy yang rapat dengannya. Tujuan dia mengajak kawan-kawannya ialah untuk menyaksikan bagaimana nanti dia akan menghempapkan batu itu di atas kepala Nabi Muhammad S.A.W.

Sepanjang perjalanan itu dia membayangkan bagaimana keadaan Nabi Muhammad nanti setelah kepalanya dihentak oleh batu itu. Dia tersenyum sendirian apabila membayangkan kepala Nabi Muhammad S.A.W pecah dan tidak bergerak lagi. Dan juga membayangkan bagaimana kaum QUraisy akan menyambutnya sebagai pahlawan yang telah berjaya membunuh musuh nombor satu mereka.

Sebaik sahaja Abu Jahal tiba di perkarangan Masjidil Haram, dilihatnya Rasulullah S.A.W baru sahaja sampai dan hendak mengerjakan sembahyang. Dalam pada itu, Nabi Muhammad S.A.W tidak menyedari akan kehadiran Abu Jahal dan kawan-kawannya di situ. Baginda tidak pernah terfikir apa yang hendak dilakukan oleh Abu Jahal terhadap dirinya pada hari itu.

Sebaik-baik sahaja Abu Jahal melihat Rasulullah S.A.W telah mula bersembahyang, dia berjalan perlahan-lahan dari arah belakang menuju ke arah Nabi Muhammad S.A.W. Abu Jahal melangkah dengan berhati-hati, setiap pergerakannya dijaga, takut disedari oleh baginda.

Dari jauh kawan-kawan Abu Jahal memerhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini akan musnahlah engkau hai Muhammad."

Sebaik sahaja Abu Jahal hendak menghampiri Nabi Muhammad S.A.W dan menghayun batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba secepat kilat dia berundur ke belakang. Batu yang dipegangnya juga jatuh ke tanah. Mukanya yang tadi merah kini menjadi pucat lesi seolah-olah tiada berdarah lagi. Rakan-rakannya yang amat ghairah untuk melihat Nabi Muhammad S.A.W terbunuh, tercengang dan saling berpandangan.

Kaki Abu Jahal seolah-olah terpaku ke bumi. Dia tidak dapat melangkahkan kaki walaupun setapak. Melihatkan keadaan itu, rakan-rakannya segera menarik Abu Jahal dari situ sebelum disedari oleh baginda. Abu Jahal masih terpinga-pinga dengan kejadian yang dialaminya.

Sebaik sahaja dia sedar dari kejutan peristiwa tadi, rakan-rakannya tidak sabar untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah berlaku. Kawannya bertanya, "Apakah sebenarnya yang terjadi kepada engkau, Abu Jahal? Mengapa engkau tidak menghempapkan batu itu ke kepala Muhammad ketika dia sedang sujud tadi?"

Akan tetapi Abu Jahal tetap membisu, rakan-rakannya semakin kehairanan. Abu Jahal yang mereka kenali selama ini seorang yang lantang berpidato dan menyumpah seranah Nabi S.A.W, tiba-tiba sahaja diam membisu.

Dalam pada itu, Abu Jahal masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru menimpanya tadi. Dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, malah dia sendiri tidak menyangka perkara yang sama akan berulang menimpa dirinya.

Perkara yang sama pernah menimpa Abu Jahal sewaktu Rasulullah S.A.W pergi ke rumah Abu Jahal apabila seorang Nasrani mengadu kepada baginda bahawa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada masa itu Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa pada baginda apabila dia terpandang dua ekor harimau menjadi pengawal peribadi Rasulullah S.A.W.

Kemudian setelah habis mereka menghujani Abu Jahal dengan pelbagai soalan, maka Abu Jahal pun mula bersuara, "Wahai sahabatku! Untuk pengetahuan kamu semua, sebaik sahaja aku menghampiri Muhammad hendak menghempapkan batu itu ke kepalanya, tiba-tiba muncul seekor unta yang besar hendak menendang aku. Aku amat terkejut kerana belum pernah melihat unta yang sebegitu besar seumur hidupku. Sekiranya aku teruskan niatku, nescaya akan matilah aku ditendang oleh unta itu, sebab itulah aku berundur dan membatalkan niatku."

Rakan-rakan Abu Jahal berasa amat kecewa mendengar penjelasan itu, mereka tidak menyangka orang yang selama ini gagah dan bersungguh-sungguh hendak membunuh Nabi Muhammad S.A.W hanya tinggal kata-kata sahaja. Orang yang selama ini diharapkan boleh menghapuskan Nabi Muhammad S.A.W dan pengaruhnya hanya berupaya bercakap seperti tin kosong sahaja.

Setelah mendengar penjelasan dari Abu Jahal yang tidak memuaskan hati itu, maka mereka pun berkata kepada Abu Jahal dengan perasaan kehairanan, "Ya Abu Jahal, semasa kau menghampiri Muhammad tadi, kami memerhatikan engkau dari jauh tetapi kai tidak napak akan unta yang engkau katakan itu. Malah bayangnya pun kami tidak nampak."

Rakan-rakan Abu Jahal mula sangsi dengan segala keterangan yang diberikan oleh Abu Jahal. Mereka menyangka Abu Jahal sentiasa mereka-reka cerita yang karut itu, mereka mula hilang kepercayaan terhadapnya. Akhirnya segala kata-kata Abu Jahal tidak mereka indahkan lagi.

Di Sunting:indahnya Islam

Jumaat, 15 November 2013

Rindu kami kepadamu Ya Rasulullah Di Saat Ajal Menjemput Rasulullah



Kematian adalah muara kehidupan manusia dan akhir perjalanannya di dunia, tidak ada yang lolos dari lubang jarum kematian, besar dan kecil, tua dan muda, sehat dan sakit, laki-laki dan wanita, semua yang hidup pasti akan meneguk gelas kematian dan memasuki gerbangnya yang berat. Beratnya kematian bisa kita lihat dari sejarah kematian manusia yang terekam kepada kita, bagaimana calon mayit mengalami sakaratul maut yang jika dia bisa berlari darinya niscaya dia akan berlari, tetapi ke mana?

Berikut ini adalah sejarah yang terekam tentang kematian manusia terbaik, sayid para nabi dan rasul, Muhammad saw.

Pada saat tanda-tanda sakit mulai terlihat pada diri Rasulullah saw, beliau bersabda, "Aku ingin mengunjungi syuhada perang Uhud." Beliau berangkat dan berdiri di atas kubur mereka dan berkata, “Assalamu'alaikum wahai syuhada Uhud, kalian adalah orang-orang yang mendahului, kami, insya Allah, akan menyusul kalian dan aku pun insya Allah akan menyusul kalian."

Pulang dari sana Rasulullah saw menangis, mereka bertanya, "Apa yang membuatmu menangis ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Aku rindu kepada saudara-saudaraku." Mereka berkata, "Bukankah kami adalah saudara-saudaramu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku, maka mereka adalah kaum yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku dan tidak melihatku."

Tiga hari sebelum wafat, sakit beliau mulai menguat. Waktu itu beliau menginap di rumah Maemunah, beliau bersabda, "Kumpulkan istri-istriku." Para istri berkumpul. Nabi saw bertanya kepada mereka, "Apakah kalian mengizinkanku menginap di rumah Aisyah?" Mereka menjawab, "Kami mengizinkanmu ya Rasulullah." Beliau hendak bangkit, tetapi tidak mampu. Maka datanglah Ali bin Abu Thalib dan Fadhl bin Abbas memapah Rasulullah dari rumah Maemunah ke rumah Aisyah.

Untuk pertama kali para sahabat melihat Nabi saw dipapah. Mereka berkumpul dan bertanya-tanya, "Ada apa dengan Rasulullah, ada apa dengan Rasulullah?" Orang-orang mulai berkumpul di masjid. Dan masjid pun penuh dengan para sahabat.

Nabi saw dibawa ke rumah Aisyah, beliau mulai berkeringat dan berkeringat. Aisyah berkata, "Aku belum pernah seumur-umur melihat orang berkeringat sederas ini." Lalu Aisyah memegang tangan Rasulullah dan mengusap keringat dengan tangan itu. Mengapa dengan tangan Rasulullah saw dan bukan dengan tangannya sendiri? Aisyah menjelaskan, "Tangan Rasulullah saw lebih baik dan lebih mulia dari tanganku. Karena itu aku mengusap keringatnya dengan tangannya dan bukan dengan tanganku." Ini merupakan penghormatan kepada Nabi saw.

Aisyah berkata, aku mendengarnya berkata, “La ilaha illallah, kematian mempunyai sekarat. La ilaha illallah, kematian mempunyai sekarat." Terdengar suara gaduh dari masjid. Nabi saw bertanya, "Ada apa?" Aisyah menjawab, "Orang-orang mengkhawatirkanmu ya Rasulullah." Nabi saw berkata, "Bawalah aku kepada mereka."

Beliau hendak berdiri tetapi tidak bisa, maka beliau disiram air tujuh kali agar sadar, selanjutnya beliau dibawa ke masjid ke atas mimbar. Inilah khutbah terakhir di mana beliau berkata, "Wahai manusia sepertinya kalian mengkhawatirkanku." Mereka menjawab, "Benar ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Wahai manusia, dunia bukanlah pertemuan kalian denganku akan tetapi pertemuan kalian denganku adalah di telaga. Demi Allah seolah-olah diriku melihatnya dari tempat ini. wahai manusia, demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan atas kalian adalah dunia. Kalian berlomba-lomba padanya sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga berlomba-lomba padanya. Maka ia membinasakan kalian seperti ia telah membinasakan mereka."

Beliau melanjutkan, "Wahai manusia bertakwalah kepada Allah pada wanita aku mewasiatkan agar kalian berbaik-baik kepada wanita." Kemudian beliau melanjutkan, "Wahai manusia sesungguhnya seorang hamba diberi pilihan oleh Allah antara dunia dan apa yang ada di sisiNya maka dia memilih apa yang ada di sisiNya." Tidak seorang pun yang mengerti siapa hamba tersebut, padahal maksud Nabi saw adalah dirinya sendiri, kecuali Abu Bakar. Ketika Abu Bakar mendengar ucapan Rasulullah saw, dia tidak mampu menahan dirinya, tangisannya terdengar di seluruh masjid, dia memotong ucapan Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, kami mengorbankan bapak-bapak kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan ibu-ibu kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan istri-istri kami untukmu, ya Rasulullah kami mengorbankan harta-harta kami untukmu." Abu Bakar mengulang-ulang ucapannya. Maka orang-orang melihatnya dengan kejengkelan, bagaimana dia berani memotong pembicaraan Rasulullah saw. Rasulullah saw meneruskan, "Wahai manusia, tidak seorang pun dari kalian yang memiliki jasa kepada kami kecuali kami telah membalasnya, kecuali Abu Bakar, aku tidak kuasa membalasnya, maka aku menyerahkannya kepada Allah Taala. Semua pintu ke masjid hendaknya ditutup kecuali pintu Abu Bakar, ia tidak ditutup untuk selama-lamanya."

Beliau dipapah pulang ke rumah. Datanglah Abdur Rahman bin Abu Bakar dengan siwak di tangannya. Aisyah berkata, "Dari pandangan kedua matanya aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Maka aku mengambil siwak dari tangan Abdur Rahman dan melunakkannya terlebih dahulu dengan mulutku, seterusnya aku berikan kepada Nabi saw. Jadi ludahku adalah sesuatu yang paling terakhir yang masuk ke dalam mulut Rasulullah saw."

Putri Rasulullah saw Fatimah datang, dia menangis, dia menangis karena dia terbiasa setiap kali datang kepada Nabi saw, Nabi saw berdiri menyambutnya dan mencium keningnya, akan tetapi kali ini Nabi saw tidak kuasa berdiri untuknya. Rasulullah saw berkata kepada Fatimah, "Mendekatlah kemari wahai Fatimah." Rasulullah saw berbisik kepadanya di telinganya, maka Fatimah menangis. Kemudian beliau berkata kepadanya untuk kedua kalinya, "Mendekatlah kemari ya Fatimah." Rasulullah saw berbisik kepadanya dan Fatimah tertawa. Setelah Rasulullah saw wafat, Fatimah ditanya tentang hal itu, maka dia menjawab, beliau berkata kepadaku, “Wahai Fatimah aku mati pada malam ini.” Maka aku menangis. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Wahai Fatimah, kamu adalah keluargaku pertama yang menyusulku.” maka aku tertawa.

Lalu Nabi saw bersandar di dada Aisyah istrinya. Aisyah berkata, beliau mengangkat tangannya dan pandangannya ke langit, kedua bibirnya bergerak, yang terdengar oleh Aisyah adalah, “Bersama orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada` dan shalihin, ya Allah ampunilah aku dan rahmatilah aku, dan kembalikan aku kepada ar-Rafiq al-A’la, ya Allah ar-Rafiq al-A’la.” Kata terakhir terulang tiga kali dan tangannya luruh. Beliau berpulang.

Perisitwa besar ini terjadi di waktu dhuha pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H, usia beliau padsa saat itu enam puluh tiga tahun lebih empat hari.

Anas berkata, “Aku tidak pernah melihat satu hari pun yang lebih baik dan lebih bersinar daripada hari kedatangan Rasulullah saw, dan aku tidak melihat satu hari pun yang lebih buruk dan lebih gelap daripada hari kematian Rasulullah saw.”
(Izzudin Karimi)

Isnin, 11 November 2013

Kalimah Syahadah


MAKNA KALIMAH SYAHADAH:
Kalimah Syahadah iaitu ucapan:
لا إلــــــه إلا الله محمد رسول الله
Ucapan ini membawa maksud: “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH, Muhammad itu Pesuruh ALLAH”.
Makna “Ilah” dalam bahasa Arab adalah yang disembah dan ditaati, kata Fairuz Abadi dalam Qamus:
ألَهَ إِلاهَةً وأُلُوهَةً وأُلُوهِيَّةً: عَبَدَ عِبادَةً، ومنه لَفْظُ الجلالِة، واخْتُلِفَ فيه على عِشْرِينَ قَوْلاً ذَكَرْتُها في المباسِيطِ، وأصَحُّها أنه عَلَمٌ غيرُ مُشْتَقٍّ، وأصْلُه إِلهُ، كفِعالٍ، بمعنى مَأْلُوهٍ. وكلُّ ما اتُّخِذَ مَعْبُوداً إِلهٌ عند مُتَّخِذِهِ، بَيِّنُ الإِلاَهَةِ والأُلْهانِيَّةِ، بالضم
Jelas daripada penjelasan Fairuz Abadi ini kalimah Ilah bermakna Ma’luh yakni Ma’bud (yang disembah) dan setiap yang disembah adalah Ilah pada sisi orang yang menyembahnya.
Dalam Mu’jam al-Wasit terbitan Majma’ al-Lughah al-’Arabiah dinyatakan:
الْإِلَه كل مَا اتخذ معبودا (ج) آلِهَة
Maksudnya: “al-Ilah” adalah semua yang dijadikan sebagai sembahan, pluralnya: Aa-lihah.
Tafsiran yang membawa makna Ilah kepada selain makna sembahan adalah makna yang batil berlawanan dengan Bahasa Arab dan tertolak.
Adapun Syahadah Risalah merupakan kelaziman bagi Syahadah Tauhid, mengandungi makna Iqrar bahawa Muhammad bin Abdullah sallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Utusan ALLAH yang diberikan wahyu kepadanya oleh ALLAH ta’ala’.
Maksud Syahadah ini adalah Iqrar kita untuk patuh dengan semua arahan dan perkhabaran yang disampaikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kerana firman ALLAH:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ
Maksudnya: “dan Tidaklah Kami (ALLAH) utuskan seorang Rasul melainkan supaya dia (Rasul itu) ditaati dengan izin ALLAH …” [al-Nisaa: 64].
RUKUN KALIMAH SYAHADAH
Rukun Syahadah Tauhid ada dua iaitu:
PertamaNafi; yakni menafikan segala sembahan selain ALLAH
KeduaIsbat; yakni menetapkan sifat Ilahiah (sembahan) yang hak hanya kepada ALLAH sahaja.
Dalilnya firman ALLAH ta’ala:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ
Maksudnya: “dan ketika mana berkata Ibrahim kepada bapanya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri daripada apa yang kamu sembah”
Ini adalah dalil bagi Nafi yakni menafikan segala sembahan selain ALLAH, kemudian firman ALLAH:
إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
Maksudnya: “melainkan Dia yang menciptakan aku (yakni ALLAH) sesungguhnya Dia lah yang akan memberi aku petunjuk”.
Ini adalah dalil Isbat yakni menetapkan Uluhiyyah hanya kepada ALLAH ta’ala sahaja. [Surah al-Zukhruf: 26 dan 27].
SYARAT-SYARAT KALIMAH SYAHADAH
Syarat kalimah Syahadah ada Tujuh Syarat berdasarkan penelitian dalil-dalil daripada Al-Quran dan As-Sunnah yang Sahihah iaitu:
Pertamaal-’Ilm; yakni Ilmu. Maksudnya hendaklah mereka yang menutur dua kalimah Syahadah ini mengetahui maknanya dan memahami maksud kalimah ini. Menuturkannya dalam keadaan jahil maknanya maka ianya tertolak. Dalil Syarat ini firman ALLAH ta’ala:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maksudnya: “maka ketahuilah bahawa Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH…” [Muhammad: 19]
Firman ALLAH ta’ala:
وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Maksudnya: “dan tidaklah memiliki orang-orang yang diseru (oleh kaum musyrikin daripada sembahan mereka yang batil) selain ALLAH akan syafaat kecuali mereka yang bersaksi dengan al-Haq (yakni kalimah Tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui”. [al-Zukhruf: 86]
Dalam ayat ini ALLAH menafikan adanya Syafaat daripada sembahan-sembahan kaum Musyrikin kemudian Dia menetapkan adanya Syafaat di akhirat bagi mereka yang mentauhidkan ALLAH dalam keadaan mereka mengetahui makna kalimah Tauhid itu. [Rujuk Tafsir al-Tabari].
Keduaal-Yaqin; hendaklah penutur kalimah Syahadah Yakin dengan makna dan kandungannya, tidak syak akannya sebagaimana firman ALLAH ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu mereka yang beriman dengan ALLAH dan RasulNya kemudian mereka Tidak Ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan ALLAH mereka itulah orang-orang yang benar (dalam keimanan mereka)”. [al-Hujurat: 15].
Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، لَا يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Maksudnya: “Aku bersaksi Bahawa Tiada sembahan yg benar kecuali ALLAH dan bahawa aku (yakni Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Utusan ALLAH”; Tidaklah seorang hamba bertemu ALLAH dengan bersaksi akannya tanpa ragu-ragu pada keduanya melainkan dia pasti masuk Syurga”. [HR Muslim].
Ketigaal-Qabul; yakni penerimaan dengan sepenuh jiwa terhadap makna kalimah ini dan tuntutannya, Tidak membantah dan Tidak menolak kerana sikap kaum Musyrikin apabila disuruh mengucap dua kalimah Syahadah mereka angkuh dan sombong serta enggan mengucapkannya:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Maksudnya: “Adalah mereka itu apabila dikatakan kepada mereka: La ilaha illallah; maka mereka sombong enggan mengucapkannya” [al-Saffat: 35]
Mafhum Ayat ini adalah Ingkar akan kandungan La ilaha illallah adalah Kufur, maka menjadi syarat untuk sahnya adalah Menerima dengan hati dan lisan akan kalimah ini.
Keempatal-Inqiyad; iaitulah menyerah diri dan patuh kepada tuntutan kalimah ini dengan jiwa raga dan anggota badan, melaksanakan tuntutannya dengan mentauhidkan ALLAH dan meninggalkan Syirik. Firman ALLAH ta’ala:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
Maksudnya: “dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada ALLAH dengan mentauhidkanNya sedangkan dia patuh dengan perintah ALLAH maka dia telah berpegang dengan al-’Urwah al-Wustqo (iaitulah Kalimah Tauhid) dan kepada ALLAH jua akibat segala urusan” [Luqman: 22]
Kelimaal-Sidq yakni Benar; berlawanan dengan Munafiq, maka seorang mukmin disyaratkan mengucapkan kalimah Tauhid dalam keadaan dia benar mengakui kalimah itu pada batinnya. Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ، إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ
Maksudnya: “Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahawa Tiada sembahan yang hak kecuali ALLAH dan bahawa Muhammad itu Utusan ALLAH benar dari hatinya melainkan ALLAH haramkan atasnya neraka”. [HR Al-Bukhari & Muslim]
Keenamal-Ikhlas; yakni hendaklah dia mengucapkan Syahadah dalam keadaan dia ikhlas mengharapkan ALLAH semata-mata bukan kerana menunjuk-nunjuk pada manusia seperti kaum Munafiqin, riya’ dalam mengucap dua kalimah Syahadah adalah Kufur Akbar yang menjadikan pelakunya kafir munafiq kekal di bawah neraka paling bawah. Nauzubillah min zalik.
Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ
Maksudnya: “Manusia yang paling bahagia mendapat Syafaatku di hari kiamat adalah barangsiapa yang mengucapkan La ilaha illallah ikhlas daripada hatinya atau dirinya” [HR al-Bukhari].
Ketujuhal-Mahabbah yakni mencintai kalimah ini dan ahlinya serta tuntutannya dan membenci Syirik dan ahlinya dan apa-apa yang berlawanan dengan kalimah ini.
Firman ALLAH ta’ala:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maksudnya: “Engkau tidak akan dapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, tergamak berkasih-mesra dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang yang menentang itu ialah bapa-bapa mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. mereka (yang setia) itu, Allah telah menetapkan iman dalam hati mereka, dan telah menguatkan mereka dengan semangat pertolongan daripadaNya; dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka tetap kekal di dalamnya. Allah reda akan mereka dan mereka reda (serta bersyukur) akan nikmat pemberianNya. merekalah penyokong-penyokong (agama) Allah. Ketahuilah! Sesungguhnya penyokong-penyokong (agama) Allah itu ialah orang-orang yang berjaya.” [al-Mujadilah: 22]
Firman ALLAH juga:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Maksudnya: “Adalah bagi kamu pada Ibrahim dan yang bersama dengannya (beriman dengannya) contoh ikutan yang baik ketika mana mereka berkata kepada kaum mereka (yang musyrik): Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan apa yang kamu sembah selain ALLAH dan kami Kufur dengan agama kamu dan telah ketaralah antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sehingga kamu beriman dengan ALLAH yang Esa…” [al-Mumtahanah: 4]
Ayat-ayat yang mewajibkan kita berlepas diri daripada kekufuran dan membencinya menjadi dalil kewajipan untuk kita mencintai Tauhid dan memberi Wala’ (kesetiaan) padanya.
Kalimah Syahadah jika diucapkan dengan Lisan tanpa dilaksanakan Tuntutan dengan Hati dan Anggota maka ia sia-isa, demikian juga sekadar iqrar di dalam Hati tanpa diucapkan dengan lisan dan diamal dengan Anggota adalah sia-sia kerana Ulama’ Salaf telah Ijmak Iman itu adalah: Ucapan dan Amalan; Ucapan Hati dan Lisan, Amalan Hati, Lisan, dan Anggota Badan.
Mereka yang melafazkan kalimah ini dengan Lisan namun melakukan amalan-amalan yang berlawanan dengan asal kalimah ini seperti Syirik kepada ALLAH atau menghalalkan apa yang ALLAH Haramkan dan sebaliknya maka ia membawa kepada terbatalnya Syahadah seperti yang akan datang perbahasannya insya-ALLAH.
KANDUNGAN SYAHADAH RISALAH
Iqrar kita terhadap Syahadah: Muhammad Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dinyatakan Ulama’ mengandungi beberapa perkara:
  • Membenarkan perkhabaran baginda
  • Mentaati baginda dalam perintahnya
  • Menjauhi apa yang baginda larang
Dalilnya adalah:
Firman ALLAH ta’ala:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ
Maksudnya: “dan Tidaklah Kami (ALLAH) utuskan seorang Rasul melainkan supaya dia (Rasul itu) ditaati dengan izin ALLAH …” [al-Nisaa: 64].
Firman ALLAH juga:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maksudnya: “Tidak, demi Tuhanmu (wahai Muhammad) mereka tidak beriman sehingga mereka berhukum kepada mu dalam perkara yang mereka selisihi kemudian mereka tidak dapati dalam diri mereka rasa tidak selesa terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menyerah kepada hukum engkau sepenuh penyerahan”. [al-Nisaa: 65]
Sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ يَعْصِنِي فَقَدْ عَصَى اللهَ
Maksudnya: “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia telah taat kepada ALLAH, barangsiapa yang menderhakai aku maka dia derhaka kepada ALLAH…” [HR Muslim].
PEMBATAL SYAHADAH
Syahadah akan terbatal dan menjadikan penuturnya terkeluar daripada Islam (Murtad) –na’uzubillah min zalik- melalui perbuatan atau perkataan atau kepercayaan yang membawa maksud berlawanan dengan asal kalimah Tauhid dan asasnya.
Dapat dirumuskan bahawa pembatal kalimah Syahadah ada dua perkara iaitu:
PertamaSyirik
Syirik di sini adalah Syirik Akbar dan maksudnya adalah: “Menjadikan apa-apa hak daripada hak-hak ALLAH kepada selainNya yang berkaitan dengan asal Iman dan asasnya”.
Hak-hak ALLAH itu pula adalah:
  • Pertama: Hak ALLAH dalam Uluhiah
  • Kedua: Hak ALLAH dalam Rububiah
  • Ketiga: Hak ALLAH dalam al-Asma’ was Sifat
Ketiga-tiga hak ini terkandung dalam firman ALLAH:
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
Maksudnya: “Tuhan langit-langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadat kepada-Nya, adakah kamu tahu bagi-Nya sesuatu yang menyamaiNya?!!” [Maryam: 65]
Maka Syirik berlaku dalam Tiga Hak ini:
Pertama: Syirik dalam Uluhiah atau Ibadah iaitulah mengalihkan apa-apa bentuk ‘Ibadah kepada selain ALLAH seperti memohon doa kepada makhluk Ghaib dan Orang Mati, Membayar Nazar kepada makhluk, Sujud kepada makhluk, Menyembelih Haiwan sebagai Taqarrub kepada makhluk dan seumapamanya.
Firman ALLAH ta’ala:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Maksudnya: “dan bahawa sesungguhnya segala bentuk ‘ibadah itu adalah hanya untuk ALLAH maka janganlah kamu sembah bersama ALLAH sesuatu pun”. [al-Jinn: 18]
Kedua: Syirik dalam Rububiah dan ia berlaku dalam dua bentuk:
Pertama: Ta’thil iaitu menafikan kewujudan ALLAH ta’ala seperti Atheis dan
Ajaran Wehdatul Wujud yang menganggap Tuhan dan Makhluk itu benda yang sama.
Kedua: Tamtsil yakni beriktiqad adanya zat dan kuasa lain yang setanding kuasa ALLAH dalam mentadbir ‘Alam ini.
Firman ALLAH ta’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
Maksudnya: “Wahai manusia, ingatlah nikmat ALLAH ke atas kamu semua, Adakah pencipta selain ALLAH yang memberikan kamu rezeki daripada langit dan bumi?!! (tentu sahaja tidak ada) Tiada sembahan yang benar kecuali Dia maka di manakah lagi kamu hendak berdusta?!!”. [Fatir: 3]
Ketiga: Syirik dalam al-Asma’ was Sifat sama ada dengan cara:
1- Ta’thil: iaitu ingkar nama-nama dan Sifat-sifat ALLAH
2- Tamtsil: Menyamakan nama-nama dan Sifat-sifat ALLAH dengan makhluk
Firman ALLAH ta’ala:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Maksudnya: “dan bagi ALLAH nama-nama yang maha baik maka serulah Dia dengannya dan tinggalkan mereka yang menyimpang dalam nama-namaNya mereka akan dibalas atas perbuatan mereka”. [al-A'raf: 180]
Maksud Ilhad dalam nama-nama ALLAH adalah menyimpang daripada kewajipan yang sepatutnya dalam masalah ini dan kewajipan itu ada dua:
Pertama: Isbat (menetapkan) bagi ALLAH nama-nama dan sifat-sifat yang tsabit dalam al-Quran dan al-Sunnah.
Kedua: Menafikan daripada ALLAH nama-nama dan sifat-sifat dan apa sahaja yang ALLAH nafikan dari diri-Nya dalam al-Quran dan al-Sunnah.
Dalilnya adalah firman ALLAH ta’ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maksudnya: “Tiada sesuatu pun yang seperti-Nya dan Dia jualah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [As-Syura: 11].
KeduaKufur
Kufur yang dimaksudkan adalah Kufur Akbar (besar) yang menjadikan penutur kalimah Syahadah kembali kepada kekufuran setelah Islamnya (murtad) –na’uzubillah min zalik-.
Maksud Kufur adalah: “Tidak Beriman (tidak mempercayai) apa yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sama ada sebahagian atau semuanya atau enggan menurut apa yang dibawa oleh baginda”.
Kufur Akbar terbahagi kepada beberapa jenis:
Pertama: Kufur I’radh dan Jahil; yakni berpaling daripada Agama ALLAH ta’ala dan tidak mengambil endah akannya, tidak mempelajarinya, tidak pula mencari berkenaannya sedangkan dia mampu.
Firman ALLAH:
مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
Maksudnya: “Tidaklah Kami (ALLAH) menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan hak dan sehingga tempoh tertentu sedangkan orang-orang kafir itu berpaling daripada apa yang mereka diingatkan akannya”. [al-Ahqaf: 3]
Kufur jenis ini adalah yang kebiasaan kita dapati pada orang-orang awam kaum kafir di zaman ini, mereka tidak mengambil tahu berkenaan Islam, tidak menuntut ilmu berkenaannya, tidak mencari hidayah, tidak membenci, tidak pula mencintai, tidak membenarkan tidak juga mendustakan.
Kedua: Kufur Istikbar dan Iba’; yakni kufur disebabkan angkuh dan enggan tunduk pada tuntutan kalimah Tauhid dalam keadaan dia mengetahui ianya benar. Ianya seumpama Iblis laknatullahi ‘alaih yang enggan menurut perintah ALLAH ta’ala sujud kepada Adam ‘alaihis salam kerana angkuh dengan asal kejadiannya:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Maksudnya: “dan ketika mana Kami (ALLAH) berkata kepada para Malaikat: Sujudlah kalian kepada Adam maka mereka semuanya bersujud kecuali Iblis yang enggan dan sombong dan dia termasuk daripada orang-orang Kafir”. [al-Baqarah: 34]
Firman ALLAH berkenaan sikap sebahagian kaum Musyrikin:
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
Maksudnya: “Adalah mereka itu apabila dikatakan kepada mereka: La ilaha illallah; maka mereka sombong enggan mengucapkannya” [al-Saffat: 35]
Ketiga: Kufur Juhud; yakni mempercayai kebenaran Islam dalam hatinya namun enggan mengakui dengan lisan dan anggotanya seperti Kufur Fir’aun. Kata ALLAH:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Maksudnya: “dan mereka (Fir’aun dan pengikutnya) mengingkarinya sedangkan jiwa mereka meyakininya, mereka melakukan demikian secara zalim dan meninggi diri maka lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang melakukan kerosakan”. [al-Naml:14].
Keempat: Kufur ‘Inad; yakni dia mempercayai kebenaran Islam dalam dirinya dan mengakui dengan lisannya ianya agama benar dan tidak memusuhinya namun dia enggan mengucap Syahadah dan tunduk pada agama itu seperti Abu Talib bapa saudara Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kelima: Kufur Ingkar; iaitulah orang yang jahil sama sekali akan ALLAH dan Rasul-Nya dan tidak mengiktiraf sama sekali ALLAH dan Rasul-Nya seperti kaum Atheis yang ingkar kewujudan ALLAH secara jahil dan kaum Barahimah (Hindu) yang ingkar kewujudan Rasul dan Nabi sama sekali.
Keenam: Kufur Takzib; yakni beriktiqad bahawa apa yang dibawa Rasul yang diutus kepadanya itu adalah dusta semata-mata dan kufur jenis ini sedikit dalam kalangan kaum kafir. Kebanyakan Takzib kaum kafir terhadap para Rasul adalah takzib (pendustaan) secara zahir bukan batin yakni juhud.
Ketujuh: Kufur Syak dan Zan (wasangka) yakni dia ragu-ragu akan apa yang dibawa Rasul seperti firman ALLAH ta’ala:
وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا (35) وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا (36) قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا (37) لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا (38
Maksudnya: “dan dia masuk ke kebunnya dalam keadaan dia menzalimi dirinya sambil berkata: Aku tidak yakin bahawa ini semua akan musnah, aku tidak pasti bahawa kiamat itu akan berlaku dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku aku akan dapat ganjaran yang lebih baik. Kata temannya kepadanya dalam keadaan dia berbincang: Adakah kamu menjadi Kafir dengan Tuhan yang menciptakan kamu daripada Tanah kemudian daripada Nutfah kemudian Dia perelokkan kejadian kamu sebagai seorang lelaki sempurna?! Adapun aku (berkeyakinan) Dia adalah Tuhanku dan aku tidak akan sekutukan dengan Tuhanku sesiapa pun” [al-Kahf: 35-38]
Kelapan: Kufur Nifaq; iaitulah kufur kaum Munafiqin yang menzahirkan Islam namun mendustakannya dan tidak yakin di dalam diri mereka. Firman ALLAH:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ
Maksudnya: “Wahai Rasul janganlah kamu bersedih akan mereka yang bergegas-gegas menuju kepada kekufuran daripada golongan yang berkata kami beriman dengan mulut mereka namun tidak beriman dengan hati mereka”. [al-Maidah: 41].
PELENGKAP SYAHADAH:
Kalimah Syahadah adalah Iman dan Iman itu akan bertambah dengan bertambahnya ilmu yang sahih dan amalan yang soleh sebagaimana firman ALLAH ta’ala:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (4)
Maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman jika disebutkan ALLAH maka bergetarlah hati mereka dan jika dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal. Mereka itulah yang mendirikan solat dan daripada apa yang Kami berikan rezeki kepada mereka, mereka infaqkan. Mereka itulah orang-orang beriman dengan sebenar-benar keimanan bagi mereka kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka, keampunan, dan Rezeki yang terbaik (Syurga)”. [al-Anfal: 2-4]
Maka hendaklah seorang Muslim menjaga kalimah Syahadahnya daripada terbatal –na’uzubillah min zalik-, menjaga kalimah syahadahnya berkurang dan cacat kerana dosa, sentiasa pula berusaha meningkatkan prestasi kalimah Syahadahnya dan menambah imannya dengan Ilmu yang Sahih dan Amalan yang Soleh.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آلــــــه وصحبه وسلم
Rujukan:
I’lam as-Sunnah al-Manshurah, Syaikh Hafiz Hakami
Ma’arijul Qabul, Syaikh Hafiz Hakami
Syarah Fathul Majid, Syaikh Soleh Alu Syaikh
Kitab al-Ta’rifat al-I’tiqadiah, Sa’ad b Muhammad Al Abdul Latif
Madarij al-Salikin, Imam Ibn Al-Qayyim
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sociable