Pengambilan Pelajar Baru

Pengambilan Pelajar Baru

Asrama Lelaki

Asrama Lelaki

Banguan B (kelas)

Banguan B (kelas)

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Isnin, 26 Oktober 2015

Syahidnya Husein R.A Di Padang Karbala


Artikal ini adalah terjemahkan dari tulisan dan dari sebahagian ceramah Syeikh Utsman al-Khomis, seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Kesesatan Syiah-.
Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali‘alaihissalam telah banyak ditulis, namun beberapa orang saudara meminta saya agar menulis sebuah kisah sahih yang benar-benar  dari sumber dari para ahli sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut –sebelumnya Syeikh telah menulis secara terperinci tentang kisah syahidnya Husein R.A di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.
Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan wafat, penduduk Iraq mendengar berita bahawa Husein bin Ali belum lagi berbaiah kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Iraq menhantarkan utusan kepada Husein yang menyatakan baiah mereka secara bertulis kepadanya (Husien R.A). Penduduk Iraq tidak mahu Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan mereka menolak Muawiyah, Utsman, Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Melalui utusan tersebut telah sampai 500 pucuk surat atau lebih yang menyatakan mereka akan berbaiah kepada Husein untuk jadikannya sebagai khalifah.
Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk menyiasat akan kebenaran tentang baiah itu. Sesampainya Muslim bin Aqil di Kufah, ia menyaksikan ramai orang yang sangat inginkan Husein R.A menjadi khalifah. Lalu mereka berbaiah kepada Husein R.A melalui perantaraan Muslim bin Aqil. Baiah itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.
Kisah itu akhirnya telah sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan iaitu di Syam, maka Yazid bin Muawiyah menghantar Ubaidullah bin Ziyad menuju ke Kufah untuk melarang Husein masuk ke Iraq supaya tidak berlaku pemberontakan penduduk Kufah terhadap Yazid bin Muawiyah merupakan Amirul Mukminin yang meneraju tampuk pemerintahan Khalifah ketika itu.Masaalah itu telah menjadi panas ketika Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah. Ia terus menyiasat sehingga akhirnya ia mengetahui bahawa kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya baiah terhadap Husien R.A dan di situ juga Muslim bin Aqil tinggal.
Ubaidullah bin Ziyad menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang baiah terhadap Husein R.A di Kufah. Ubaidullah bin Ziyad ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu segalanya . Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Muslim bin Aqil adalah anak saudara Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.
Apabila  Muslim bin Aqil mendengar kabar bahawa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Maka Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiah kepada Husien R.A mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.
Ubaidullah bin Ziayd memberi respon terhadap ancaman Muslim bin Aqil dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah menjadikan Syiah (Syiah - pembela) Husein ini ketakutan . Mereka pun mengkianati Muslim bin Aqil dan melarikan diri meninggalkan Muslim bin Aqil yang tinggal hanya 30 orang saja, belum pun sempat matahari terbenam yang tinggal hanya Muslim bin Aqil seorang diri.
Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh. Sebelum hukuman di jalankan, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya itu diterima oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husein adalah: “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”. Muslim bin Aqil pun dibunuh, Ketika itu adalah hari Arafah.
Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Husein, Muhammad al-Hanafiyah dll.
Abu Said al-Khudri R.A mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahawa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka kerana aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan (mudah berubah pen.). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beliau antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”. Husein R.A enggan membatalkan perjalanannya itu. Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku mendoakan engkau kepada Allah selamat dari pembunuhan”.
Setelah meneruskan perjalanannya itu, datanglah kabar kepada Husein tentang terbunuhnya Muslim bin Aqil. Husein tersedar bahawa keputusannya ke Iraq adalah keputusan yang keliru, dan ia hendak pulang menuju ke Mekah atau Madinah, namun anak-anak Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang lagi, sehingga kita menuntut hak keatas terbunuhnya ayah kami (Muslim bin Aqil)”. Kerana menghormati Muslim dan bersimpati terhadap anak-anaknya (Muslim bin Aqil), Husein akhirnya tetap meneruskan perjalanannya menuju ke Kufah dengan tujuan menuntut hak bagi pembunuh Muslim.
Pada masa yang sama Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghalang Husein agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Husein di Qadisiyah, ia mencuba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah. Husein mengatakan, “Celakalah ibumu dan menjauhilah dariku”. Al-Hurru menjawab, “Demi Allah, jikalau yang mengatakan itu adalah orang selainmu akan aku balas dengan menghinanya dan menghina ibunya, tapi apa yang akan aku katakan kepadamu, ibumu adalah wanita yang paling mulia, radhiallahu ‘anha”.
Ketika Husein memasuki daerah Karbala, tibalah 4000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Saad. Husein mengatakan, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menganggap, “Karbun (musibah) dan balaa’(bencana).”
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyedari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan kepada Umar bin Saad, “Aku ada dua alternatif pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.
Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata Ubaidullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan agar Husein ditawan di bawa menghadapnya. Mendengar hal itu Husein menolak untuk menjadi tawanan.
Terjadilah peperangan yang sangat tidak seimbang antara 73 orang di pihak Husein berhadapan dengan 5000 pasukan Ubaidullah. Kemudian 30 orang pasukan Ubaidullah dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi Menyebelahi dan bergabung dengan Husein R.A. Peperangan yang tidak imbang itu telah menewaskan semua yang berada di pihak Husein, sehingga tinggallah Husein seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya, masih tinggal rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melepaskan panah lalu mengenai Husein R.A, Husein R.A pun terjatuh lalu tentera-tentera yang berada disitu terus menyerangnya, Husein R.A. akhirnya syahid, semoga Allah meredhoinya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah yang memenggal kepala Husein sedangkan dalam riwayat lain, orang yang memenggal kepala Husein adalah Sinan bin Anas, Wallahu Allahu a’lam. Yang perlu pembaca ketahui Akhirnya Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan Sinan bin Anas adalah pembela Ali (Syiah nya Ali) di Perang Shiffin.
Ini adalah sebuah kisah pilu yang sangat menyedihkan, celaka dan terhinalah orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Husein dan ahlul bait yang bersamanya. Bagi mereka kemurkaan dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meredhoi Husein dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di antara ahlul bait yang terbunuh bersama Husein R.A adalah:
 #Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.
 #Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.
#Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.
#Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim    bin Aqil.
#Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.
Dari Ummu Salamah bahawasanya Jibril telah datang kepada Nabi S.A.W“…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husein wahai Muhammad?” Nabi menjawab, “Ya” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya. Kalau engkau mahu, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat yang dinamakan Karbala. (HR. Ahmad dalam Fadhailu ash-Shahabah, ia mengatakan hadis ini hasan).
Adakah salah Husein R.A Pergi ke Iraq?
Tidak ada kemaslahatan dalam hal dunia mahupun akhirat daripada perjalanan Husein R.A  keluar menuju Iraq. Oleh kerana itu, banyak para sahabat Nabi yang berusaha mencegahnya dan melarangnya berangkat ke Iraq. Husein R.A pun menyedari hal itu dan ia berkeinginan hendak pulang, namun anak-anak Muslim bin Aqil memintanya untuk mencari pengadilan terhadap ayah mereka yang terbunuh. Husein R.A dengan penuh tanggung jawab tidak lari dari permasalahan ini. Dari peristiwa ini kita nampak akan kezaliman dan kesombongan orang-orang Kufah-Syiah (Syiah- Pembela Ali) terhadap ahlul bait Nabi‘alaihumu ash-shalatu wa salam.
Sekiranya Husein ‘alaihissalam menerima nasihat para sahabat tentu tidak terjadi peristiwa ini, akan tetapi Allah telah menetapkan takdirnya. Terbunuhnya Husein R.A ini tentu saja tidak sebesar peristiwa terbunuhnya para Nabi, seumpama dipenggalnya kepala Nabi Yahya oleh seorang raja, kerana calon istri raja tersebut meminta kepala Nabi Yahya bin Zakariya sebagai mahar pernikahan. Demikian juga dibunuhnya Nabi Zakariya oleh Bani Israil, dan nabi-nabi yang lainnya. Demikian juga dengan terbunuhnya Umar dan Utsman. Semua kejadian itu lebih besar dibanding dengan peristiwa dibunuhnya Husein ‘alaihissalam.
 Bagaimana Sikap Kita Terhadap Peristiwa Karbala?
Tidak diperbolehkan bagi umat Islam, apabila disebutkan tentang kematian Husein, maka ia meratap dengan memukul-mukul pipi atau mengoyak-ngoyakkan pakaian, atau bentuk ratapan yang semisalnya. Nabi S.A.W bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek bajunya.” (HR. Bukhari).
Seorang muslim yang baik, apabila mendengar musibah ini hendaknya ia mengatakan sebuah kalimat yang Allah tuntunkan dalam firman-Nya,
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengtakan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada nya lah kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Tidak pernah diriwayatkan bahawa Ali bin Husein atau putranya Muhammad, atau Ja’far ash-Shadiq atau Musa bin Ja’far radhiallahu ‘anhum, para imam dari kalangan ahlul bait mahupun selain mereka pernah memukul-mukul pipi mereka, atau merobek-robek pakaian atau berteriak-teriak, dalam rangka meratapi kematian Husein. 
Tidak seperti orang-orang yang mengaku Syiah (pembela) Husein, Syiahnya ahlul bait Nabi pada hari ini, mereka merosakkan anggota tubuh, memukul kepala dan tubuh dengan pedang dan rantai, mereka katakan kami bangga mengalirkan darah demi Husein. Demi Allah, sekiranya mereka berada pada hari dimana Husein terbunuh mereka akan turut serta dalam kelompok pembunuh Husein kerana mereka adalah orang-orang yang selalu melakukan pengkianatan.
Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini
Dalm permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak campur tangan. Aku mengatakan hal ini bukan untuk membela Yazid tetapi hanya untuk menceritakankan perkara yang sebenarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Jumhur ahli sejarah mengatakan. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar melarang Husein R.A untuk memasuki wilayah Iraq. Ketika Yazid mendengar Husein R.A terbunuh, Yazid berasa sangat terkejut dan beliau menangis kerana terlalu sedih. Setelah itu Yazid sangat memuliakan keluarga Husein dan menjaga anggota keluarga yang masih tinggal dengan bersungguh-sungguh sehingga sampai ke daerah mereka. Adapun riwayat yang mengatakan bahawa Yazid merendahkan wanita-wanita ahlul bait lalu membawa mereka ke Syam, ini adalah riwayat yang batil. Bani Umayyah (keluarga Yazid) sangat memuliakan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah).
Sebelum itu Yazid telah mengirim surat kepada Husein ketika di Mekah, malang sekali ketika surat itu tiba Husein R.A telah berangkat menuju Iraq. Surat itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husein agar tidak berangkat ke Iraq dan Yazid juga menyatakan keluarganya rapat dengan keluarga Husein R.A. Penjaga Yazid, Ummu Habibah adalah isteri Rasulullah, datuk Yazid dan Husein adalah saudara kembar.
Kepala Husein
Tidak ada riwayat yang sahih yang menyatakan bahawa kepala Husein dihantar kepada Yazid di Syam. Husein syahid di Karbala dan kepalanya dihantarkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Tidak diketahui dimana makamnya dan makam kepalanya.
Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Sumber: almanhaj.net
Diterjemahkan dengan beberapa tambahkan oleh Nurfitri Hadi

Sabtu, 3 Oktober 2015

Tolak Fahaman Bukan Ahli Sunnah wal-Jamaah..



Nabi telah khabarkn tentang tanda kiamat iaitu golongan yg menghina generasi awal(para shbt,tabi'in dan tabi' tabi'in)

Dan kini golongan itu telah wujud depan mata kita iaitu:

1)Syiah:yang sgt terkenal sbg penghina dan pengkafir para sahabat nabi,mereka memanggil abu bakar,umar dan ramai sahabat sbg kafir,memanggil aisyah isteri nabi sebagai pelacur.

2)Wahabi/salafi/ghair muqalli(penolak mazhab):mereka menghina imam-imam salafus soleh di kalangan tabi'in seperti imam hanafi,dituduh imam hanafi sbg tak reti hadis,begitu juga mereka hina imam syafie,maliki dan hanbali yang merupakan tabi'tabi'in sebagai tak reti hadis,syirik,pelaku bidaah dan mengharamkan kaum muslimin mengikuti mazhab mereka.

Kini kita(umat islam ahli sunnah wal jamaah) berhadapan dengan mereka di mana-mana sahaja,mereka wujud menjadi musuh dalam selimut di dalam jemaah PAS,UMNO,usrah-usrah Ikhwan muslimin,dan banyak lagi jemaah yang mereka join untuk mengelirukan umat,dulu mereka(golongan wahabi) dan ulama mereka sangat berbangga dengan nama "wahabi" tapi selepas dunia mengetahui bahawa mereka ini pengkhianat agama yang bersekongkol dengan eropah untuk menghancurkan khalifah islam di turki dan juga setelah mengetahui ketua mereka (muhammad bin abdul wahab) merupakan seorang pembunuh umat islam dan ahlul bait,maka umat islam sedunia menolak fahaman wahabi,lalu mereka tukar nama mereka kepada "salafi" dan bermati-matian mereka bertaqiyyah(berpura-pura) yang mereka itu bukan wahabi tapi salafi,sedangkan maksud "salafi" ialah pengikut para ulama salafus soleh iaitu para sahabat,tabi'in dan tabi' tabi'in sedangkan mereka ini(wahabi/salafi) bukannya pengikut mereka bahkan pencerca dan penghina mereka...mereka adalah watak-watak akhir zaman yang telah dikhabarkan nabi sebagai perosak agama...begitu juga syiah,mulanya sangat bangga menyarung nama syiah,tapi selepas dunia tahu bahawa mereka itu semuanya kafir dari islam,maka mereka bertaqiyyah(pura-pura) dan bermatian tidak mengakui diri sebagai syiah.

Kalau tak caya,cube tanya wahabi atau syiah adakah mereka ni pengikut wahabi atau syiah,mereka akan nafikan dan putar belit macam ular..

Yang menariknya,fitnah wahabi dan syiah ini telah nabi khabarkan dalam hadisnya iaitu hadis tentang fitnah dari tanah najd(sekarang riyadh,arab saudi),ketika orang najd minta nabi doakan kebaikan untuk tanah najd,nabi berpaling,sampai 3x minta doa,nabi berpaling dan akhirnya bersabda mafhumnya "dari sana akan(najd)muncul tanduk syaitan"..

Wallahi ada 2 fitnah besar datang dari najd:

1)Nabi palsu yang pertama iaitu musailamah al-kazzab yang dibunuh sahabat nabi datang dari najd.

2)Pengasas wahabi muhammad bin abdul wahab terang-terang lahir dan tinggal di najd.

Maka wajib lah bagi kita untuk menjauhi tanduk tanduk syaitan ini kerana ini PERINTAH NABI...

Sepakat umat islam tolak kaum nabi palsu(penghina nabi), syiah(penghina sahabat) dan wahabi(penghina tabi'in dan tabi'tabiin)... (IBO)

HADITS PALSU DALAM KITAB FADHILAH AMAL Tuduhan Mereka, Jawapan kita.. Wahabi owh wahabi..



Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal adalah kumpulan hadits dhaif dan maudhu'
Masalah hadits dhaif pendapat yang umum dikalangan ulama boleh menggunakannya untuk Fadhilah Amal.

Masalah hadits maudhu' benarkah ada terdapat dalam Buku Fadhilah Amal karangan Maulana Zakariyya Al-Kandahlawi rah.a.

Jawabnya : “Ada”

Didalam Fadhilah Dzikir, Hadits-hadits Tentang Kalimat Thayyibah, Hadits ke 28
Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.” (Hr. Thabrani, Hakim, Abu Nu’aim, Baihaqi)

Dibawah hadits tersebut (keterangan hadits yang berbahasa Arab) dengan jelas Maulana Zakariyya menuliskan kedudukan hadits tersebut.
Apa keterangannya :


“Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”

Dalam menanggapi hadits ini :
Berkata Al-Imam Al-Hakim : “Shahih sanadnya”
Berkata Al-Imam Al- Baihaqi : “Dhaif”
Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”

Jadi ada perbezaan pendapat ulama tentang hadits diatas ada yang mengatakan : Shahih, dhaif dan palsu.

Pertanyaan
“Mengapa Maulana Zakariyya menuliskan hadits palsu dalam kitab Fadhilah amal”

Jawapan :
Tidak ada masalah menuliskan hadits dhaif atau palsu dalam sebuah buku untuk kepentingan ilmu selagi ia menuliskan darjat hadits itu. Maulana Zakariyya dengan jelas menuliskan berbagai pendapat ulama dalam menanggapi hadits tersebut.

Pertanyaan
Kenapa penterjemah tidak menterjemahkan keterangan hadits tersebut kedalam bahasa malaysia? sebabnya kebanyakan pembaca tidak memahami bahasa Arab.

Jawab :
Penerjemah mungkin mempunyai alasan yang khusus dalam masalah ini. Setiap takhrij hadits dalam Fadhilah amal tidak pernah diterjemahkan kedalam bahasa Malaysia munkin kerana akan menimbulkan tebalnya kitab tersebut dan biasanya hanya sebahagian kecil dari masyarakat Malaysia yang faham tentang ilmu hadits dengan baik.

Contohnya :
Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahawa telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahawa dia pernah mendengar Al Qamah bin Waqhas Al Laitsi berkata saya mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau kerana perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (HR. Bukhari)

Kalau kita melihat didalam buku hadits yang terjemahan atau salinan kedalam buku lain maka nama Perawi : Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair, Sufyan, Yahya bin Sa’id Al Anshari, Muhammad bin Ibrahim At Taimi, Al Qamah bin Waqhas Al Laitsi jarang sekali dituliskan padahal dalam tulisan bahasa arabnya ditulis lengkap dengan parawinya. Maka hadits diatas akan dipotong nama-nama perawinya dan hadits diatas akan dituliskan sebagai berikut :

Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung apa yang diniatkan. Barang siapa niat hijrahnya kerana dunia yang ingin digapainya atau kerana perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (HR. Bukhari)

Jadi, Apakah alasan yang menyebabkan penterjemah tidak menyertakan nama-nama perawinya. Alasannya mungkin akan sama dengan apa yang terkait masalah Fadhilah amal diatas. “Akan menimbulkan tebalnya kitab tersebut dan biasanya hanya sebahagian kecil dari masyarakat Malaysia yang faham tentang ilmu hadits dengan baik”.
Makanya menurut hemat penterjemah hal itu tidak dituliskan.

Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal tidak layak untuk dibaca kerana akan menimbulkan kesesatan ditengah umat yang berisi kumpulan hadits dhaif dan maudhu'
Mari kita teliti dengan baik adakah didalam kitab para pencela itu hadits dhaif dan maudhu'

Hadits-Hadits dhaif yang Terdapat dalam Kitab At-Tauhid karya Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab

Bab 2 : Keistimewaan Tauhid Dan Dosa-Dosa Yang Diampuni Kerananya
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Musa berkata : “Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdoa kepada Mu”. Allah berfirman : “Katakanlah wahai Musa : Laa ilaaha illallaah”. Musa berkata : Ya Tuhanku, semua hamba Mu mengucapkan ini”. Allah pun berfirman : ”Hai Musa, seandainya ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang ’Laa ilaaha illallaah’ diletakkan pada daun timbangan yang lain; maka ’Laa ilaaha illallaah’ niscaya lebih berat timbangannya”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Haakim, dan ia menshahihkannya.

Keterangan :
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6218) dan Al-Mawaarid (no. 2324), serta Al-Haakim dalam Al-Mustadrak (1/528). Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (8/327-328), An-Nasa’i dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah (no. 834, 1141), Al-Baihaqi dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat (102-103), dan yang lainnya.
Sanad hadits ini dla’if karena perawi yang bernama Darraaj bin Sam’aan. Al-Imam Ahmad berkata : “Hadits-hadits Darraj dari Abu Al-Haitsam, dari Abu Sa’id Al-Khudriy adalah lemah”.

Hadits ini di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (9/54-55 no. 6185), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (1/718 no. 1988), dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij Shahih Ibni Hibban (no. 6218).

Bab 7 : Termasuk Syirik; Memakai Gelang, Benang, Dan Sejenisnya Sebagai Pengusir Atau Penangkal Mara Bahaya

Hadits ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu :

Dari ‘Imraan bin Hushain radliyallaahu ‘anhu : Bahawasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan. Maka beliau bertanya : “Apakah ini ?”. Orang itu menjawab : “Penangkal sakit”. Nabi pun bersabda : “Lepaskan itu, kerana dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sebab jika kamu mati sedangkan gelang itu masih ada di tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad laa ba’sa bih (tidak mengapa/boleh diterima).
Keterangan :

Diriwayatkan oleh Ahmad (4/445), Ibnu Majah (no. 3531), Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir (18/172 no. 391), Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (no. 6085) dan Al-Mawaarid (no. 1410-1411), serta Al-Haakim (4/216).

Sanad hadits ini dloif kerana :
a) Adanya inqitha’ (Sanad terputus), kerana Al-Hasan (Al-Bashriy) tidak mendengar hadits dari ‘Imran bin Hushain. Tashriih Al-Hasan dalam hadits di atas adalah tidak benar menurut Ibnul-Madini, Abu Hatim, dan Ibnu Ma’in.
b) Adanya ’an’anah dari Al-Mubaarak bin Fudlaalah, sedangkan ia adalah seorang mudallis.

Hadits ini dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan (8/448 no. 6053) dan Adl-Dla’ifah (3/101-104), Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy dalam At-Tatabbu’ (4/341 no. 7582 – beliau menegaskan adanya inqitha’ dalam sanadnya), serta Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth dalam Takhrij wa Ta’liq Musnad Al-Imam Ahmad (33/2-4-205).

Hadits maudhu' (palsu) dalam kitab Fathul Majid Syaikh Abdurrahman hasan Alu Syaikh

Bab : Mamberi Nama Anak Yang Bernuansa Syirik Kepada Allah, Hal. 882. 1994 M, Penta’liq : Abdullah bin Baaz.

Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al A'raaf 190)

Imam Ahmah rah.a dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Bercerita kepada kami Abdush-Shamad, bercerita kepada kami Umar bin Ibrahim, bercerita kepada kami Qatadah dari Al Hasan dari Samurah dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Ketika hawa melahirkan, iblis mengitarinya dan anaknya tidak pernah hidup. Lalu iblis berkata kepadanya : Namailah anakmu dengan Abdul Harits dan anak itu hidup. Itu adalah wahyu dari syetan dan perintahnya.

Ibnu Katsir mengatakan cacat dari 3 segi dan hadits ini nampaknya dari ahli kitab
Imam Abu Muhammad bin Hazm berkata palsu dan bohong dari kalangan orang yang tidak punya agama.

Mereka berkata : Kitab Fadhilah Amal tidak layak untuk dibaca kerana akan menimbulkan kesesatan bagi umat yang mana kitab ini  ada hadits dhaif dan maudhu'. Sebenarnya mereka sendiri sudah menghukumi diri mereka sendiri.
Untuk apa baca kitab Fathul Majid yang berisi kumpulan hadits dhaif dan maudhu'.
Cobalah sedikit untuk berpikir.

Wallahu a’lam

oleh Ust Mahodum Hasibuan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sociable