Pengambilan Pelajar Baru

Pengambilan Pelajar Baru

Asrama Lelaki

Asrama Lelaki

Banguan B (kelas)

Banguan B (kelas)

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Kelas Dan Asrama Pelajar Hafizah

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Bangunan Alimah Dan Hafizah (Wanita)

Selasa, 31 Julai 2012

Keutamaan 10 Hari Terakhir Ramadhan




Bulan Ramadhan merupakan momentum peningkatan kebaikan bagi orang-orang yang bertaqwa dan ladang amal bagi orang-orang shaleh. Terutama, sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Sebagian ulama kita membagi bulan ini dengan tiga fase: fase pertama sepuluh hari awal Ramadhan sebagai fase rahmat, sepuluh di tengahnya sebagai fase maghfirah dan sepuluh akhirnya sebagai fase pembebasan dari api neraka. Sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Salman Al Farisi: “Adalah bulan Ramadhan, awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Dari ummul mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi saw. ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Beliau jika memasuki sepuluh hari terkahir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Apa rahasia perhatian lebih beliau terhadap sepuluh hari terakhir Ramadhan? Paling tidak ada dua sebab utama:
Sebab pertama, karena sepuluh terkahir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupannnya atau akhirnya. Rasulullah saw. berdo’a:
“اللهم اجعل خير عمري آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك”
“Ya Allah, jadikan sebaik-baik umurku adalah penghujungnya. Dan jadikan sebaik-baik amalku adalah pamungkasnya. Dan jadikan sebaik-baik hari-hariku adalah hari di mana saya berjumpa dengan-Mu Kelak.”

Jadi, yang penting adalah hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Karena boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan.

Sepuluh akhir Ramadhan merupakan pamungkas bulan ini, sehingga hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang sepuluh hari akhir Ramadhan ini.

Sebab kedua, karena dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan di duga turunnya lailatul qadar, karena lailatul qadar bisa juga turun pada bulan Ramadhan secara keseluruhan, sesuai dengan firman Allah swt.
إنا أنزلناه في ليلة القدر
Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam kemulyaan.”

Allah swt. juga berfirman:
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان
“Bulan Ramadhan,adalah bulan diturunkan di dalamnya Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk dan pembeda -antara yang hak dan yang batil-.”
Dalam hadits disebutkan: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan di dalamnya ada lailatul qadar, malam lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya maka ia diharamkan mendapatkan kebaikan seluruhnya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali ia benar-benar terhalang -mahrum-.”

Al qur’an dan hadits sahih menunjukkan bahwa lailatul qadar itu turun di bulan Ramadhan. Dan boleh jadi di sepanjang bulan Ramadhan semua, lebih lagi di sepuluh terakhir Ramadhan. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“التمسوها في العشر الأواخر من رمضان“.
“Carilah lailatul qadar di sepuluh terakhir Ramadhan.”

Pertanyaan berikutnya, apakah lailatul qadar di seluruh sepuluh akhir Ramadhan atau di bilangan ganjilnya saja? Banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar berada di sepuluh hari terakhir. Dan juga banyak hadits yang menerangkan lailatul qadar ada di bilangan ganjil akhir Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:
“التمسوها في العشر الأواخر وفي الأوتار”
“Carilah lailatul qadar di sepuluh hari terakhir dan di bilangan ganjil.”

“إن الله وتر يحب الوتر”
“Sesungguhnya Allah ganjil, menyukai bilangan ganjil.”

Oleh karena itu, kita rebut lailatul qadar di sepuluh hari terakhir Ramadhan, baik di bilangan ganjilnya atau di bilangan genapnya. Karena tidak ada konsensus atau ijma’ tentang kapan turunya lailatul qadar.
Di kalangan umat muslim masyhur bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab dan Ibnu Umar radhiyallahu anhum. Akan tetapi sekali lagi tidak ada konsensus pastinya.

Sehingga imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Bari” menyebutkan, “Paling tidak ada 39 pendapat berbeda tentang kapan lailatul qadar.”
Ada yang berpendapat ia turun di malam dua puluh satu, ada yang berpendapat malam dua puluh tiga, dua puluh lima, bahkan ada yang berpendapat tidak tertentu. Ada yang berpendapat lailatul qadar pindah-pindah atau ganti-ganti, pendapat lain lailatul qadar ada di sepanjang tahun. Dan pendapat lainnya yang berbeza.

Untuk lebih hati-hati dan antisipasi, hendaknya setiap manusia menghidupkan sepuluh hari akhir Ramadhan.
Apa yang disunnahkan untuk dikerjakan pada sepuluh hari akhir Ramadhan?
Adalah qiyamullail, sebelumnya didahului dengan shalat tarawih dengan khusyu’. Qira’atul qur’an, dzikir kepada Allah, seperti tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, istighfar, do’a, shalawat atas nabi dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Lebih khusus memperbanyak do’a yang ma’tsur:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْت : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَرَأَيْت إنْ عَلِمْت أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ، مَا أَقُولُ فِيهَا ؟ قَالَ : قُولِي : اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah, bahwa beliau berkata: “Saya berkata: Wahai Rasul, apa pendapatmu jika aku mengetahui bahwa malam ini adalah lailatul qadar, apa yang harus aku kerjakan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah: “Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Dzat Pengampun, Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka ampunilah saya.” (Ahmad dan disahihkan oleh Al-Albani)

Patut kita renungkan, wahai saudaraku muslim-muslimah: “Laa takuunuu Ramadhaniyyan, walaakin kuunuu Rabbaniyyan. Janganlah kita menjadi hamba Ramadhan, tapi jadilah hamba Tuhan.” Karena ada sebagian manusia yang menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan keta’atan dan qiraatul Qur’an, kemudian ia meninggalkan itu semua bersamaan berlalunya Ramadhan.

Kami katakan kepadanya: “Barangsiapa menyembah Ramadhan, maka Ramadhan telah mati. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan pernah mati.”
Allah cinta agar manusia ta’at sepanjang zaman, sebagaimana Allah murka terhadap orang yang bermaksiat di sepanjang waktu.

Dan karena kita ingin mengambil bekalan sebanyak mungkin di satu bulan ini, untuk mengarungi sebelas bulan selainnya.

Semoga Allah swt. menerima amal kebaikan kita. Amin

Kelebihan 10 Malam Pertama Bulan Ramadhan



10 Hari Pertama Bulan Ramadhan - Fasa 10 Hari Pertama Bulan Ramadhan di sebut dengan Malam Rahmat, 10 Hari Kedua di sebut dengan Maghfiroh, dan 10 Hari Ketiga disebut dengan Itsfunminannar (pembebasan dari Api Neraka).
Suatu Ketika Para Sahabat Bertanya Kepada Rasullullah saw, YaRasullullah, apa sih sebenarnya keutamaan (kelebihan) Sholat Sunnat Tarwih Pada Bulan Ramadhan?,lalu Rasullullah pun menjawab sebagaimana   yang dijelaskan dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Saiyidian Ali(r.a), Kelebihan Sholat Sunnat Tarwih Pada bulan Ramadhan Adalah sbb :

Malam Pertama :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam pertama Ramadhan, maka ia akan keluar dari dosa dosa sebagaimana ia baru di lahirkan

Malam Kedua :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam dua Ramadhan, maka dosanya dan kedua dosa ibu bapak nya akan di ampuni oleh SWT

Malam Ketiga :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ketiga Ramadhan, maka maka malaikat yang ada di Arsy berdoa kepada Allah agar diampuni dosa kita

Malam Ke empat :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke empat Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala dari orang2 yang membaca kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur'an

Malam Ke Lima :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam lima Ramadhan, maka Allah akan Memberikan Pahala sebagaimana Pahala nya orang2 yang sholat di masjidil Haram, Masjid Madina dan Aqsa.

Malam Ke Enam :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke enam Ramadhan, maka Malaikat yang tawaf di Baitul Makmur (70Ribu malaikat) serat batu2 dan tanah mendoakan orang2 yang melaksanakan sholat tarwih pada malam ini.

Malam Ke Tujuh :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke tujuh Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala Se akan2 bertemu dengan Nabi Musa dan Berjuang mengalahkan musuh ketatnya yaitu Fi'aun dan Hamman.


Malam Ke kelapan :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam kedelapan Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala yang di lakukan nabi Ibrahim As

Malam Ke Sembilan :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke sembilan Ramadhan, maka ia akan di naikkan mutu dan nilai ibadah nya sebagaimana mutu dan Ibadah Nabi Muhammad SAW.


Malam ke Sepuluh :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke sepuluh Ramadhan, maka Allah akan mengkaruniakan kepadanya kebaikan dunia dan Akhirat.

Khamis, 26 Julai 2012

HUKUM BERSETUBUH DI SIANG HARI PADA BULAN RAMADHAN



Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w, katanya: Celaka aku, wahai Rasulullah. Nabi s.a.w berkata: Apakah yang mencelakakan engkau? Jawab lelaki itu: Aku telah bersetubuh dengan isteriku pada waktu siang di bulan Ramadan. Rasulullah s.a.w berkata: Sanggupkah engkau memerdekakan hamba? Jawab lelaki itu: Tidak sanggup. Rasulullah s.a.w berkata: Hendaklah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?. Jawab lelaki itu: Tidak mampu. Kata Rasulullah s.a.w: Adakah engkau mempunyai makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin?. Jawab lelaki itu: Tidak. Kemudian lelaki itu duduk, sekejap lepas itu datang seseorang kepada Nabi s.a.w dengan memberi satu bakul besar berisi tamar. Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: Sedekahkanlah kurma ini. Kata lelaki itu: Kepada siapakah?. Kepada yang lebih miskin daripada aku? Demi Allah tidak ada penduduk kampung ini yang lebih berhajat kepada makanan selain dari kami seisi rumah. Nabi s.a.w tertawa sehingga terlihat gigi taringnya dan berkata: Pulanglah, berikanlah kurma itu kepada ahli rumahmu.
(Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim)

Orang tua-tua dahulu pernah berpesan, sekiranya nak kahwinkan anak-anak. Kahwinkan mereka selepas bulan Ramadhan dan jangan kahwinkan mereka sebelum bulan Ramadhan. Tujuannya  adalah untuk menghindarkan dan mengelakkan terjadinya persetubuhan di waktu siang hari di bulan Ramadhan. Bagi yang baru berkahwin dalam tempoh sebulan. Nafsu mereka sukar dijangka dan dikawal. Pada bulan puasa nafsu orang yang baru berkahwin selalunya membuak-buak seperti kawah gunung berapi bila duduk berdekatan diantara satu sama lain. Bagi yang sudah lama berkahwin kurang terjadi persetubuhan di waktu siang, maklumlah bateri sudah lama, dan kurang charge (+).  Tapi banyak yang charge (-).

Ibadah puasa perlu dijaga dan dipelihara dari dicemari dengan perbuatan yang boleh membatalkannya dan mengurangkan ganjaran pahalanya. Di dalam kehidupan kita seharian banyak amalan dan perbuatan yang tidak diketahui samada ia boleh membatalkan puasa ataupun tidak. Antara amalan yang sering diragui dan tiada kepastian yang jelas bagi kebanyakan umat Islam pada hari ini ialah persoalan dan hukum bersetubuh bersama isteri pada siang hari bulan Ramadhan dan perkara-perkara yang berhubung dengannya termasuk mencium isteri serta berseronok bersama mereka dengan bersentuhan kulit ketika melaksanakan ibadah puasa.Persoalan ini perlu dibincang, dikaji secara teliti oleh umat Islam supaya mereka mendapat keterangan yang jelas dalam masalah ini demi menjaga ibadah puasa yang dilaksanakan agar mendapat ganjaran yang sewajarnya daripada Allah SWT
  
kaffarahnya

Dari sudut bahasa (al-Kafru) bermaksud menutup. Di namakan kafarah kerana ia menutup dosa dan mendapat keringanan daripada Allah s.w.t.
Dari sudut istilah pula ia bermaksud perbuatan yang boleh menghapus dosa yang berupa membebaskan hamba, bersedekah dan puasa dengan syarat-syarat tertentu. Ia juga suatu penampal kecuaian yang dilakukan oleh manusia dalam tindakkannya.

Kafarah merosakkan puasa kerana berjimak pada bulan Ramadhan.
  • Wajib puasa 2 bulan berturut-turut.
  • Jika tidak mampu berpuasa, merdekakan seorang hamba.
  • Jika tidak mampu merdeka hamba, beri makan kepada 60 orang fakir miskin (secupak seorang).
Taksiran

1 cupak beras = ¼ gantang Baghdad
1 gantang Baghdad bersamaan dengan 2.7kg
Kadar Nilaian yang telah ditetapkan oleh Majlis Agama Islam Wilayah Persekutuan pada tahun 2009 secupak beras = RM1.75
Contoh :
Kafarah
Sekiranya seseorang tidak mampu berpuasa 60 hari berturut-turut disebabkan sakit atau tua hendaklah memberi makan 60 orang fakir miskin. Bersamaan 60 x 1.75 = RM 105.00.

Rumusan

Begitulah rumusannya mengikut pembacaan saya di beberapa buah website, blog cendiakawan Islam serta beberapa forum. Tinggal lagi adalah bagaimana cara untuk kita melaksanakan kaffarah itu.
Jadi, saya sarankan kepada anda yang mengalami perkara nie..sila rujuk kepada imam/ustaz di tempat anda. InsyaAllah, mereka boleh bantu.

Sejarah Disyariatkan Puasa Ramadhan


Apakah takrif Puasa?
Puasa dari sudut bahasa bererti : Menahan diri daripada sesuatu sama ada kata-kata ataupun makanan. Firman Allah taala menceritakan tentang Maryam.

قال تعالى : إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا

Sesungguhnya aku bernazar untuk berpuasa kerana (Allah) Ar-rahman“. (Maryam : 26)
Puasa disini bermaksud menahan diri dan berdiam diri daripada berkata-kata.
Puasa dari sudut syarak bererti : Menahan diri daripada perkara-perkara yang membatalkan puasa bermula dari terbit fajar hingga terbenam matahari disertai dengan niat.

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, puasa merupakan amal ibadah klasik yang sebelum mewajibkan puasa Ramadhan bagi kaum Muslimin tahun ke-2 hijriyah, Allah SWT telah mensyariatkan puasa kepada para nabi terdahulu, tatkala Rasulullah Saw, beliau sudah mengalami sembilan kali puasa Ramadhan.
Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:
1.  Puasanya kaum sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta;
2.    Puasa dari berkata-kata, sebagaimana praktek puasa kaum Yahudi, hal mana yang telah dikisahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an, surat Maryam ayat 26 :
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (٢٦)
“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".
3.  Puasa dari seluruh atau sebagian dari perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian kaum Yahudi, dan puasa-puasa golongan lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum itu sendiri.
4.   Sementara kewajiban puasa bagi orang beragama Islam, mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaannya. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam.
Kewajiban puasa Ramadhan telah ada di dalam syariat umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad Saw, sebagaimana jelas di dalam ayat QS. Al-Baqarah: 183.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang sebelum kita adalah orang Nashrani, sebagian lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ahlul kitab, sebagian yang lain mengatakan bahwa mereka adalah semua manusia sebelum kita, mereka dahulu berpuasa Ramadhan penuh. Lihat atsar-atsar mereka di dalam Tafsir Ath-Thabary ketika menafsirkan ayat yang mulia ini.
Kemudian Ibnu Jarir Al-Thabari menguatkan bahwa pendapat yang paling dekat adalah yang mengatakan bahwa mereka adalah ahlul kitab, dan beliau mengatakan bahwa syariat puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan adalah ajaran Nabi Ibrahim as, yang Rasulullah Saw dan ummatnya diperintahkan untuk mengikutinya. (Lihat Tafsir Ath-Thabary, tafsir Surat Al-Baqarah: 183). Ibnu Jarir Al-Thabari, mengatakan syariat puasa pertama diterima oleh Nabi Nuh as setelah beliau dan kaumnya diselamatkan oleh Allah SWT dari banjir bandang. Nabi Daud as melanjutkan tradisi puasa dengan cara sehari puasa dan sehari berbuka. Dalam pernyataannya Nabi Dawud as berkata: “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT.” Pernyataan Nabi Dawud as tersebut ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya yang berbunyi:
“Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.” (HR. Muslim).
Nabi Musa as kemudian mewarisi tradisi berpuasa, menurut para ahli tafsir, Nabi Musa as dan kaum Yahudi telah melaksanakan puasa selama 40 hari sebagaimana dalam QS. Al Baqarah: 40:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ (٤٠)
“Hai Bani Israilingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku niscaya aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”
Salah satunya jatuh pada tanggal 10 bulan Muharram yang dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT dari kejaran Firaun. Puasa 10 Muharram ini dikerjakan oleh kaum Yahudi Madinah dan Rasul Saw menegaskan umat Islam lebih berhak berpuasa 10 Muharram dari pada kaum Yahudi karena hubungan keagamaan memiliki kaitan yang lebih erat dibandingkan dengan hubungan kesukuan. Untuk itu agar ada perbedaanya maka Rasulullah Saw kemudian mensyariatkan puasa sunah setiap tanggal 9 dan 10 Muharram, selain untuk membedakan puasa kaum Yahudi, juga ungkapan simbolik kemenangan kebenaran atas kebatilan.
Ibunda Nabi Isa as juga melakukan puasa yang berbeda dengan para pendahulunya, yaitu dengan tidak berbicara kepada siapa pun saja. Allah SWT berfirman:
فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (٢٦)
“Maka jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah: ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Mahapemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini’.” (QS. Maryam: 26).
Keempat riwayat di atas merupakan sejarah puasa ummat yang memeluk agama samawi yang menjadi rujukan  disyariatkannya puasa dalam syariat Islam. Adapun puasa agama ardhi (agama buatan manusia), kendati sama sekali bukan rujukan namun mereka juga telah melakukan puasa dengan bentuk yang berbeda-beda. Sebelum puasa Ramadhan diwajibkan, Rasululullah Saw telah memerintahkan kaum Muslimin puasa Hari Asyura pada setiap tanggal 9 dan 10 Muharram. Namun begitu perintah puasa Ramadhan tiba, puasa Asyura yang sejatinya ditambah satu hari oleh Rasulullaah Saw menjadi puasa sunah. 
Demikianlah sejarah disyriatkan puasa yang diwajibkan terakhir dan tetap demikian hingga hari kiamat. (Lihat keterangan Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma'aad 2/30). Menurut Imam Ibnul Qoyyim ra mengatakan: “Tatkala menundukkan jiwa dari perkara yang disenangi termasuk perkara yang sulit dan berat, maka kewajiban puasa Ramadhan tertunda hingga setengah perjalanan Islam setelah hijrah.” Ketika jiwa manusia sudah mapan dalam masalah tauhid, sholat, dan perintah-perintah dalam Al-Qur’an, maka kewajiban puasa Ramadhan mulai diberlakukan secara bertahap. Tingginya tingkat kesulitan dalam melaksanakan puasa menjadikan syariat ini turun belakangan setelah perintah haji, shalat dan zakat. Wajar jika kemudian ayat-ayat tentang puasa Ramadhan turun secara berangsung-angsur, dalam dua tahap, yaitu:
Pertama, dalam bentuk Takhyiir (option) bahwa perintah wajib puasa Ramadhan dengan pilihan. sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 183-184 yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (١٨٤)
183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 184. “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan. Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Pada fase ini dimana kaum Muslimin boleh memilih berpuasa atau tidak berpuasa, namun mereka yang berpuasa lebih utama dan yang tidak berpuasa diharuskan membayar fidyah. Salamah bin Akwa’ berkata:
كُنَّا فِى رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِينٍ حَتَّى أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه(
"Dahulu kami ketika di bulan Ramadhan pada zaman Rasulullah Saw, barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Allah (yang artinya); Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa". (HR.Bukhari: 4507, Muslim: 1145)
Kedua, dalam bentuk perintah Ilzaam (pengharusan) kewajiban berpuasa secara menyeluruh kepada kaum Muslimin, dalam fase ini maka seorang muslim yang terpenuhi syarat wajib puasa harus berpuasa dan tidak ada pilihan lain dengan pengecualian bagi orang-orang yang sakit dan bepergian serta manusia usia lanjut (renta) yang tidak kuat lagi untuk berpuasa sebagaimana yang tergambar dalam QS. Al-Baqarah: 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٨٥)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Awal mulanya kaum Muslimin berpuasa sekitar 22 jam karena setelah berbuka mereka langsung berpuasa kembali setelah menunaikan shalat Isya, orang yang tidur sebelum makan (berbuka puasa) atau sudah menunaikan shalat Isya maka dia tidak boleh makan, minum, dan melakukan bersetubuh hingga hari berikutnya. Namun, setelah sahabat Umar bin Khathab mengungkapkan kejadian mempergauli istrinya pada satu malam Ramadhan kepada Rasulullah Saw, turunlah QS Al-Baqarah: 187:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (١٨٧)
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”
Dalam ayat ini menegaskan halalnya hubungan suami-istri di malam Ramadhan dan ketegasan batas waktu puasa yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Inilah syariat puasa dalam Islam yang menyempurnakan tradisi puasa seluruh agama samawi yang ada sebelumnya.

Rabu, 25 Julai 2012

Biodata Nabi Muhammad S.A.W

 
Pepatah Melayu ada mengatakan "Tak Kenal, Maka Tak Cinta". Demikianlah sikap kita terhadap Rasulullah SAW. Seseorang itu tidak akan menyambut kelahiran Rasulullah SAW jika tiada perasaan cinta terhadap baginda. Malahan sesetengahnya langsung tidak mempedulikan Rasulullah SAW, seolah-olah tiada apa-apa keistimewaan dengan kelahiran dan pengutusannya.

Menyedihkan lagi, sebahagian daripada umat Islam lebih mengingati kelahiran paderi ' St. Valentino ' daripada mengingati Rasulullah SAW, lebih mengingati biodata para artis daripada biodata Rasulullah SAW. Beginikah kecintaan kita kepada seorang kekasih dan utusan Allah SWT?Justeru itu kita harus berasa bertanggungjawab untuk memaparkan biodata dan kronologi hidup Baginda SAW untuk tatapan dan ingatan kita bersama agar kita lebih mencintai kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW. 
BIODATA RASULULLAH SAW· ...
Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.·
Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571 Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; sempena peristiwa tentera bergajah Abrahah yang menyerang kota Kaabah).·
Tempat lahir : Di rumah Abu Talib, Makkah Al-Mukarramah.·
Nama bapa : Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hashim.·
Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf.·
Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapa Rasulullah SAW).·
Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).·
Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Saadiah (lebih dikenali Halimah As-Saadiah. Suaminya bernama Abu Kabsyah).
USIA 5 TAHUN·
Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.
USIA 6 TAHUN·
Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ' (sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah).· Baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapa Rasulullah SAW) dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muttalib.
USIA 8 TAHUN·
Datuknya, Abdul Muttalib pula meninggal dunia.· Baginda dipelihara pula oleh bapa saudaranya, Abu Talib.
USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).·
Bersama bapa saudaranya, Abu Talib bermusafir ke Syam atas urusan perniagaan..· Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendita Nasrani bernama Bahira (Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa itu.
USIA 20 TAHUN·
Terlibat dalam peperangan Fijar . Ibnu Hisyam di dalam kitab ' Sirah ' , jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah 14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.· Menyaksikan ' perjanjian Al-Fudhul ' ; perjanjian damai untuk memberi pertolongan kepada orang yang dizalimi di Makkah.
USIA 25 TAHUN·
Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah binti Khuwailid Al-Asadiyah.· Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah. · Baginda SAW bersama-sama Abu Talib dan beberapa orang bapa saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapa saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.· Mas kahwin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.
USIA 35 TAHUN·
Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Kaabah.· Pembinaan semula Kaabah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk Makkah.· Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ' Hajarul-Aswad ' ke tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan batu tersebut.
USIA 40 TAHUN·
Menerima wahyu di gua Hira ' sebagai perlantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.
USIA 53 TAHUN·
Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Saidina Abu Bakar Al-Siddiq.· Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal/ 24 September 622M.
USIA 63 TAHUN·
Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah/ 8 Jun 632 Masihi. 
 

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW
§ Khadijah Binti Khuwailid.
§ Saudah Binti Zam'ah.
§ Aisyah Binti Abu Bakar (anak Saidina Abu Bakar).
§ Hafsah binti ' Umar (anak Saidina ' Umar bin Al-Khattab).
§ Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
§ Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
§ Zainab Binti Jahsy.§ Maimunah Binti Harith.
§ Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
§ Zainab Binti Khuzaimah (digelar ' Ummu Al-Masakin ' ; Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW
1. Qasim
2. Abdullah
3. Ibrahim
4. Zainab
5. Ruqaiyah
6. Ummi Kalthum
7. Fatimah Al-Zahra '
ANAK TIRI RASULULLAH SAW
Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah al-Tamimi (anak kepada Saidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).
SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW
IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN
1. Thuwaibah 1. Hamzah
2. Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad
SAUDARA SUSUAN
1. Halimah Al-Saidiyyah 1. Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Mutallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ' Uzza
3. Syaima ' binti Harith bin Abdul ' Uzza
4. ' Aisyah binti Harith bin abdul ' Uzza
BAPA DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW(ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTTALIB)
1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah ***
5. Al-Abbas ***
6. Abu Talib7.
Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka ' bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam)
****** Sempat masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku. Dan sesiapa yang mencintai aku nescaya dia bersama-samaku di dalam syurga."
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحبه وسلم
Nabi Muhammad SAW - Manusia agong
KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH.
Begitu indahnya sifat fizikal Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bersua muka dengan Baginda lantas melafazkan keIslaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.
Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:
- Aku belum pernah melihat lelaki yang sekacak Rasulullah saw..
- Aku melihat cahaya dari lidahnya.
- Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari terbit.
- Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.
- Rasulullah umpama matahari yang bersinar.
- Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.
- Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.
- Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.
- Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.
- Wajahnya seperti bulan purnama.
- Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.
- Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.
- Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.
- Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.
- Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.
- Mulut baginda sederhana luas dan cantik.
- Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.
- Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.
- Janggutnya penuh dan tebal menawan.
- Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.
- Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.
- Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.
- Rambutnya sedikit ikal.
- Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah bahu tapi disisir rapi.
- Rambutnya terbelah di tengah.
- Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur dari dada ke pusat.
- Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.
- Seimbang antara kedua bahunya.
- Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar dan tersusun dgn cantik.
- Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.
- Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.
- Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.
- Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.
- Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan putih.
- Warna putihnya lebih banyak.
- Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.
- Warna kulitnya putih tapi sihat.
- Kulitnya putih lagi bercahaya.
- Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kukuh.
- Badannya tidak gemuk.
- Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi kacak.
- Perutnya tidak buncit.
- Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman. Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.
mudah- mudahan akan timbul kesedaran kita untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencintai kita kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah kerana tiada lagi yang mengasihmu di akhirat kelak.
 

Isnin, 23 Julai 2012

Kenapakah Kita Dianjurkan Makan Buah Kurma Semasa Berbuaka

 
 

KURMA adalah buah yang berkat, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memulakan sesi berbuka puasa dengannya.

Daripada Salman ibn 'Aamir, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Jika salah seorang di antara kamu hendak berbuka puasa, berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air kerana air itu bersih dan suci.” (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Tirmizi)

Daripada Anas: “Sesungguhnya Nabi berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah dan segar yang baru dipetik dari pokok) sebelum solat Maghrib, kalau tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamar (kurma kering), jika tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih.” (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Tirmizi)

Mesti ada hikmah di sebalik sunnah.

Beberapa kajian perubatan dan sains menunjukkan bahawa kurma memberikan banyak manfaat untuk kesihatan fizikal mental dan kerohanian.

Ketika seseorang berpuasa hendak berbuka, organ tubuhnya bersiap sedia, organ pencernaan mulai aktif semula, khususnya perut kosong yang perlu diberikan sesuatu yang lembut dan halus.

Orang berpuasa sehari suntuk, serba keletihan memerlukan makanan pemberi tenaga yang mudah dicerna, juga air yang boleh menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Makanan paling cepat untuk dicerna dan sampai ke darah adalah nutrien glukosa atau sukrosa (gula sihat). Tubuh kita memang mampu menyerap dengan mudah dan cepat gula itu hanya dalam beberapa minit, terutama dalam keadaan perut sedang kosong.

Andainya kita mencari makanan yang mempunyai dua fungsi sekali gus seperti di atas, menghilangkan lapar dan dahaga serta nutrien pemberi tenaga dalam satu hidangan, kita tidak akan berjumpa makanan lebih baik daripada apa diperintahkan oleh sunnah nabawiah ini.

Sunnah Nabi ini memerintahkan kepada orang yang berpuasa supaya berbuka puasa dengan nutrien gula yang manis, sekali gus kaya dengan kandungan air (ruthab) atau tamar (kurma kering).

Berdasarkan kajian kimia dan fisiologi Dr Ahmad Abdul Ra'ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, data berikut diperoleh.
Memakan ruthab dan atau tamar ketika berbuka puasa akan menambahkan peratus kandungan glukosa dan sukrosa dalam badan.

Penyakit anemia (kurang darah) akan berkurangan dan tubuh tidak pucat, malah menjadi lebih ghairah.

Ketika perut kosong, saat itulah makanan yang mengandungi nutrien glukosa dan sukrosa akan mudah dicerna dan diserap secara cepat dan maksimum. Jadi, kandungan glukosa dan sukrosa dalam ruthab dan tamar yang banyak itu menjadikan proses mencerna dan menyerap di dalam badan sangat mudah.

Jadi, seorang yang berpuasa itu tidak perlu meminum air dalam jumlah yang banyak ketika berbuka.

Minum air yang berlebihan untuk menghilang dahaga kerana berpuasa sehari menjadikan badan lebih letih, perut lebih berat. Ia semua boleh mengganggu keselesaan untuk melakukan ibadah solat Maghrib dan Tarawih.

Antara khasiat buah kurma yang anda semua patut tahu adalah:

• Menguatkan daya ingatan.
• Mencegah penyakit barah.
• Menambah tenaga seksual. 
• Mengatasi masalah insomnia. 
• Melancarkan peredaran darah.
• Membunuh kuman dalam badan.
• Meredakan tekanan darah tinggi.
• Membantu mencergaskan minda.
• Merawat penyakit buah pinggang.
• Merangsang dan memudahkan kehamilan.
• Merawat penyakit gangguan usus kronik dan sembelit.
• Menghilangkan batuk dan gatal-gatal dalam kerongkong.

Nabi Muhammad SAW bersabda: 
"Rumah yang tidak ada kurma di dalamnya, akan menyebabkan penghuninya kurang sihat".

"Berilah makanan kurma pada wanita yang hamil sebelum dia melahirkan, sebab yang demikian itu akan menyebabkan anaknya menjadi seorang yang tabah dan bertakwa (bersih  hatinya)".

Dari Abu Abdillah a.s.: 
"Buah kurma adalah salah satu buah yang berasal dari syurga dan dapat mensirnakan pengaruh sihir".

"Orang yang memakan 7 buah kurma yang baik sebelum sarapan, maka pada hari itu dia tidak akan tertimpa racun, sihir dan tidak diganggu setan".

Dari Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s.:
"Barangsiapa memakan 7 buah kurma yang baik, maka cacing-cacing yang ada di perutnya akan mati".

Itulah sedikit sebanyak khasiat tentang buah kurma. Jadi amalkanlah memakan buah kurma di dalam kehidupan seharian anda. Semoga anda mendapat manfaat yang berguna daripada sebiji buah kurma. Mudah-mudahan.

Kenapakah Kita Perlu Sentiasa Berwuduk

 
 

1. Ketika berkumur, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, ampunilah dosa mulut dan lidahku ini".
Sebab : Kita hari-hari bercakap benda-benda yang tak berfaedah.

2. Ketika membasuh muka, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, putihkanlah muka ku di akhirat kelak. Janganlah Kau hitamkan muka ku ini".
Sebab : Ahli syurga mukanya putih berseri-seri.

3. Ketika membasuh tangan kanan, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, berikanlah hisab-hisab ku di tangan kanan ku ini".
Sebab : Ahli syurga diberikan hisab-hisabnya di tangan kanan.

4. Ketika membasuh tangan kiri, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, janganlah Kau berikan hisab-hisab ku di tangan kiri ku ini".
Sebab : Ahli neraka diberikan hisab-hisabnya di tangan kiri.

5. Ketika membasuh kepala, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, lindunganlah daku dari terik matahari di padang Mahsyar dengan Arasy Mu".
Sebab : Panas di Padang Masyar macam matahari sejengkal di atas kepala.

6. Ketika membasuh telinga, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, ampunilah dosa telinga ku ini".
Sebab : Hari-hari mendengar orang mengumpat, memfitnah dll.

7. Ketika membasuh kaki kanan, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, permudahkanlah aku melintasi titian Siratul Mustaqqim".
Sebab : Ahli syurga melintasi titian dengan pantas sekali.

8. Ketika membasuh kaki kiri, berniatlah kamu dengan "Ya Allah, bawakanlah daku pergi ke masjid-masjid, surau-surau dan bukan tempat-tempat maksiat".
Sebab : Qada' dan Qadar kita di tangan Allah.

KELEBIHAN ZIARAH ORANG SAKIT





Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-bersabda:


"Hak muslim atas muslim lainnya ada lima: Menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin".
(HR. Al-Bukhari no. 1240 dan Muslim no. 2162)

Dari Tsauban-budak-Rasulullah-shallallahu 'alaihi wasallam-bahawa Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam bersabda:

"Sesiapa yang menjenguk orang yang sakit, maka orang itu sentiasa berada dalam khurfah syurga." Beliau ditanya, "Apa itu khurfah syurga wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kebun yang penuh dengan buah-buahan yang dapat dipetiknya."
(HR. Muslim no. 2568)

Ali-radhiallahu 'anhu-berkata: Aku telah mendengar Rasulullah-shallallahu' alaihi wasallam-bersabda:

"Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain pada pagi hari, kecuali 70000 malaikat akan berselawat untuknya hingga petang hari. Jika dia menjenguknya di petang hari, maka 70000 malaikat akan berselawat untuknya hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan kebun yang penuh berisi buah-buahan di syurga kelak. "

(HR. At-Tirmizi no. 969 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami 'no. 5767)

Makna selawat dari malaikat adalah malaikat akan mendoakan agar Allah mengampuni dan merahmatinya.

Penjelasan ringkas:

Di antara akhlak mulia yang dituntut oleh Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-kepada umatnya adalah menjenguk saudaranya yang sakit, kerana hal itu boleh meringankan penyakit yang dialami oleh saudaranya tersebut dan juga boleh menghibur hatinya. Bahkan menjenguk muslim yang sakit hukumnya adalah wajib kerana Nabi-shallallahu alaihi wasallam-menjadikannya sebagai hak seorang muslim ke atas saudaranya muslim yang lain. Dan ini berlaku umum baik yang sakit adalah anak-anak mahupun orang dewasa, lelaki mahupun wanita, kaum kerabat mahupun bukan, hanya saja jika yang sakit itu adalah kaum kerabat maka kewajibannya lebih ditekankan.

Adab-adab bagi para penjenguk:

1. Mengingatkan orang yang sakit untuk selalu bersabar atas takdir Allah atas dirinya.

2. Mewasiatkan kepada orang yang sakit untuk banyak-banyak bertaubat dan beristighfar kepada Allah.

3. Dibolehkan menjenguk orang kafir. Ini berdasarkan hadis Anas bin Malik riwayat Al-Bukhari no. 5657 dimana Nabi-shallallahu alaihi wasallam-menjenguk seorang pemuda Yahudi-yang menjadi pelayan beliau-ketika dia sakit.

4. Menjenguk orang yang sakit boleh bila-bila masa selama tidak mengganggu orang yang sakit tersebut.

5. Tidak terlalu lama menjenguk kerana boleh mengganggu rehat orang yang sakit, kecuali jika orang yang sakit meminta dia untuk tinggal lebih lama.

6. Dianjurkan untuk duduk di sisi kepala orang yang sakit.

Abdullah bin Abbas-radhiallahu anhuma-berkata, "Jika Nabi-shallallahu alaihi wasallam-saat menjenguk orang yang sakit, beliau duduk di samping kepalanya".
(HR. Al-Bukhari no. 536 dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab no. 416)

7. Menanyakan keadaan orang yang sakit, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi-shallallahu alaihi wasallam-ketika menjenguk Abu Bakar As-Siddiq yang tengah sakit. (HR. Al-Bukhari no. 5654 dan Muslim no. 1376)

8. Mendoakan kebaikan dan kesembuhan untuk orang yang sakit, kerana para malaikat akan mengaminkannya.

Dari Ummu Salamah-radhiallahu 'anha-dia berkata: Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

"Apabila kamu menjenguk orang yang sedang sakit atau yang telah meninggal maka ucapkanlah ucapan-ucapan yang baik, kerana sesungguhnya para malaikat akan mengaminkan apa yang kamu katakan." (HR. Muslim no. 1527)

9. Di antara doa-doa yang disunnahkan untuk diucapkan adalah:

لا بأس طهور إن شاء الله
"Tidak mengapa, insya Allah penyakit ini penyuci (dari dosa-dosa)."
(HR. Al-Bukhari no. 3616)

"Ya Allah, sembuhkanlah si fulan."
(HR. Al-Bukhari no. 5659 dan Muslim no. 1628)

Atau dia boleh meruqyah orang yang sakit tersebut dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur `an kepadanya.

10. Tidak membawakan bunga kepada orang yang sakit kerana itu merupakan kebiasaan orang-orang non muslim. Sebaiknya dia membawakan makanan atau hal lain yang dia senangi.

11. Jika sakitnya kelihatan sangat parah dan dikhuatiri akan meninggal, maka disyariatkan bagi penjenguk untuk mentalqin kalimat 'laa ilaha illallah' kepada yang sakit.

Sabtu, 21 Julai 2012

Puasa Yang Sebenar Mengikut Cara Rasulullah s.a.w



Sahabat yang dihormati Allah, Ramadhan yang kita nanti-nantikan telah tiba
untuk sekali lagi kita berada di dalamnya. Ini tanda Allah masih sayang
kepada hamba-hambanya dengan memberi sekali lagi peluang untuk kita
bertemu dengan bulan yang penuh keberkatan ini. Berpuasa adalah aktiviti
terpenting dalam bulan ini. Persoalannya bagaimana tips-tips yang
diajar oleh Rasulullah s.a.w untuk puasa kita dinilai tinggi oleh Allah?
Mari kita telusuri satu persatu. 


Rasulullah s.a.w Bersahur
Rasulullah
menganjurkan kita untuk bersahur sebelum aktiviti menahan diri dari
makan dan minum di siang hari dimulakan. Bagaimana Rasulullah s.a.w
bersahur? Bersahur bukanlah dilakukan ditengah malam, tetapi ia
dilakukan di awal pagi, iaitu waktu yang sangat hampir dengan waktu
solat subuh. Bersahur juga memberi kesegaran untuk kita menghabiskan
hari siang kita dengan berpuasa. 
 
Rasulullah s.a.w bersabda:
Dari Anas Bin Malik r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Bersahurlah kerana pada sahur itu terdapat keberkatan.
(HR: al-Bukhari)
Rasulullah
s.a.w juga menekankan kepada kita untuk bangun bersahur kerana ia
adalah salah satu dari cirri-ciri bersahur orang Islam. Sabdanya:
Perbezaan antara puasa kami dengan puasa ahlu al-Kitab adalah makan sahur 
(HR: Muslim)
 
Rasulullah Menyegerakan Berbuka
Tidak melewat-lewatkan berbuka puasa adalah salah satu tips berpuasa yang di
ajar oleh Rasulullah. Ini kerana, perbuatan itu sangat mendatangkan
kebaikan untuk mereka yang menahan diri dari makan dan minum.
Rasulullah s.a.w di dalam hadithnya menerangkan kepada kita seperti mana yang dilaporkan oleh al-Bukhari & Muslim:
عَنْ
سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : ” لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia itu akan terus berada dalam kebaikan selagi mana dia menyegerakan berbuka puasa.
Perbuatan melambat-lambatkan berpuasa puasa adalah salah satu perbuatan yang
dilarang oleh Rasulullah s.a.w. Masyarakat kita sering melihat perkara
ini sebagai satu isu remeh. Apa yang terjadi dalam rata-rata masyarakat
kita di Malaysia, ketika masuknya waktu solat maghrib (waktu untuk
berbuka puasa), mereka masih lagi berada di bazaar-bazar ramadhan untuk
membeli juadah mereka. 
 
Penjual juga masih lagi melayan pelanggan tanpa
terus berbuka walaupun azan maghrib telah berkumandang. Ibu-ibu di
rumah  pula masih berada di dapur menyiapkan juadah berbuka puasa ketika
azan  maghrib bergema. Ini kerana melewat-lewatkan berbuka puasa adalah amalan Yahudi dan Kristian.
 
Persiapan seharusnya dilakukan dengan segera agar seruan Rasulullah s.a.w untuk
kebaikan umatnya dapat diamalkan sebaiknya. Rasulullah telah bersabda
di  dalam satu hadithnya yang dilaporkan oleh Abu Daud & Ibn Majah
yang  sanadnya berstatus hasan seperti yang dinilai oleh al-Albani r.h:
قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” لا يزال الدين ظاهراً ما عجل الناس الفطر لأن اليهود والنصارى يؤخرون “
Agama
ini akan sentiasa zahir (jelas) selagi mana umatnya menyegerakan
berbuka puasa, ini kerana orang-orang Yahudi dan Kristian, mereka
melewat-lewatkannya.
 
Dikeluarkan dari Musannaf Abdul Razzak dan Fathul Bari (kitab syarah sahih al-Bukhari) ‘Amr Bin Maimun r.h berkata:
وقال عمرو بن ميمون الأودي رحمه الله : ” كان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أسرع الناس إفطارا ًوأبطأهم سحوراً “
Sahabat-sahabat
Rasulullah s.a.w adalah manusia yang paling cepat (ketika) berbuka
puasa dan yang paling lewat (ketika) bersahur.
وعَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ :
دَخَلْتُ
أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ :
رَجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ، وَالآخَرُ
يُؤَخِّرُ الإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلاةَ ..
قَالَتْ : أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلاةَ ؟
قَالَ قُلْنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ مَسْعُودٍ .
قَالَتْ كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
Dari Abi ‘Atiyyah katanya: Aku dan Masruq telah bertemu Ummu al-Mu’minin
r.anha dan kami berkata kepadanya: “Dua orang lelaki dari sahabat
Muhammad s.a.w, salah seorang darinya mempercepatkan berbuka dan
mempercepatkan solat, manakala seorang lagi melewatkan berbuka dan
melewatkan bersolat…” Ummu al-Mu’minin berkata: “Siapakah diantara
mereka berdua yang mempercepatkan berbuka dan menyegerakan bersolat?”
Kami berkata: “Abullah iaitu Ibn Mas’ud.” Kata (Ummu al-Mu’minin):
“Perbuatan (menyegerakan berbuka) Itulah yang telah dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w”.
Berbuka Dengan Beberapa Biji Kurma 
 
Antara kaedah yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w adalah memulakan memakan
beberapa biji kurma basah ketika berbuka puasa. Ini untuk memudahkan
dirinya bersolat dalam keadaan tidak terlalu kenyang. Pernah
diriwayatkan dari Anas Bin Malik, seperti yang dilaporkan oleh Ahmad,
Abu Daud dan Tirmidzi katanya:
Rasulullah s.a.w apabila baginda berbuka puasa, baginda berbuka dengan beberapa
biji kurma basah sebelum solat. Jika tiada kurma basah, baginda berbuka
dgn kurma kering. Jika tiada kurma kering, baginda berbuka dengan
beberapa teguk air.
 
Ini adalah sunnah Rasulullah s.a.w. Ramai diantara kita yang sering
meninggalkan sunnah ini. Mereka menyegerakan berbuka puasa serta makan
dan minum sehingga kekenyangan lalu melewatkan bersolat maghrib.
Rasulullah makan dengan beberapa biji kurma, kemudian bersolat. Apabila
Rasulullah s.a.w terasa lapar, Rasulullah s.a.w makan selepas baginda
solat.
 
Tidur Qailulah
Nabis.a.w mengajarkan kepada kita agar sentiasa cergas ketika berpuasa di
siang hari dan bersemangat melakukan amal ibadat di malamnya. Antara
kaedah yang diajar oleh Rasulullah s.a.w adalah dengan tidur sebentar
sebelum solat zohor, perbuatan itu dinamakan dengan Qailulah. Ini untuk
memudahkan kita bangun di waktu malam mengerjakan amal ibadat.
Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Ibn Majah:
عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ”  اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ
وَبِالْقَيْلُولَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ “
Dari Ibnu Abbas r.a bahawa Nabi s.a.w telah bersabda; Carilah kekuatan
melalui sahur untuk puasa keesokan hari dan melalui Qailulah (tidur
sekejap sebelum Zohor) untuk mendirikan ibadah malam.
 
Apa yang terjadi hari ini pada sesetengah masyarakat kita, mereka tidak
menerapkan sunnah ini bahkan perbuatan mereka menyalahi sunnah ini.
Mereka terutama anak-anak muda menghabiskan waktu siangnya dengan tidur
sepanjang hari dan hanya bangun untuk berbuka puasa sahaja. Berpuasa
bukanlah bulan tidur kerana keletihan. Puasa adalah bulan untuk
melakukan seberapa banyak amalan sunnah kerana padanya pahala
dilipat gandakan.
 
Menjaga Lidah
 
Terlalu rugi jika kita berpuasa, tetapi tidak mendapat sedikitpun pahala dari
amalan tersebut. Akibatnya, kita hanya mendapat lapar dan dahaga.
Antara  faktor berlaku kerugian rohani tersebut adalah kerana tidak
menjaga  lidah. Mengumpat, mencaci, mengeluarkan kata-kata kesat dan
lucah,  mengadu domba, banyak bercakap, berbohong, menyanyi lagu-lagu
yang lagha  juga dilakukan ketika berpuasa.
 
Umumnya perbuatan ini adalah perbuatan haram untuk dilakukan walaupun bukan
pada bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w bersabda dalam sepotong hadith
yang dilaporkan oleh Ahmad dan al-Tabarani:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ , وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ
Ramaiorang puasa, tetapi balasannya hanya lapar dan dahaga (tiada pahala)
dan ramai orang berjaga malam (beribadah) balasannya hanyalah mengantuk
(tiada pahala)
 
Rasulullah s.a.w bersabda lagi dalam sebuah hadith yang dilaporkan oleh Imam al-Bukhari:
وَإِذَا
كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ
سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
 
Apabila seseorang daripada kamu berada dalam hari puasa, maka janganlah ia
memaki dan mengherdik orang lain. Andainya ia dicela oleh seseorang atau
dimusuhi, hendaklah ia berkata “Saya berpuasa”.
Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda lagi sepertimana yang dilaporkan oleh al-Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Nasaie dan Ibn Majah:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ
وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda : Sesiapa yang tidak
menghentikan percakapan dusta dan terus melakukannya, Maka Allah s.w.t
tidak mempunyai hajat pada orang tersebut untuk dia meninggalkan makan
minumnya.
 
Memberi Makan Orang Yang Berpuasa
 
Antara amalan dan tips yang ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w untuk
meningkat  neraca kita adalah dengan cara menginfaqkan sedikit harta
dengan  menyediakan juadah berbuka puasa untuk mereka-mereka yang
berpuasa.  Terlalu besar ganjarannya seperti yang diberitahu Rasulullah
di dalam  hadith-hadith baginda yang mulia. Antaranya ialah seperti yang
dilaporkan oleh Tirmidzi dan Ibn Majah:
 
Sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka puasa),
dia akan mendapat balasan pahala yang sama seperti pahala orang yang
berpuasa itu tanpa dikurangkan sedikitpun daripadanya

Bagi mereka yang dijemput untuk berbuka puasa bersama, wajib baginya untuk
memenuhi undangan tersebut. Ini kerana, berpuatan membelakangi undangan
tersebut dicela oleh Rasulullah dan ianya seoalah-olah telah menentang
Rasulullah s.a.w.
 
Adalah sunnah mereka yang dijemput untuk berbuka puasa mendoakan orang yang
menjemput dengan doa-doa yang baik setelah selesai berbuka puasa. Antara
doa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w adalah seperti berikut:
  1. Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan, dan berilah minum orang yang memberiku minum (riwayat Muslim).
  2. Ya Allah, Ampunkanlah mereka, rahmatilah mereka dan berkatilah apa yang telah kau rezekikan kepada mereka(riwayat Muslim).
Doa Ketika Berbuka Puasa
Nabi s.a.w memberitahu kepada kita bahawa berdoa ketika berbuka puasa
adalah  mustajab berdasarkan hadith-hadith sahih yang warid dari baginda
s.a.w.  Kita disyorkan untuk berdoa apa sahaja yang kita ingini ketika
menunggu  waktu tersebut. Rasulullah s.a.w bersabda seperti yang
dilaporkan  Tirmidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban:
إبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ثلاثه لاترد دعوتهم : الأمام العادل , والصائم حتى يفطر , ودعوة المظلوم…
Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Pemimpin yang adil, Orang yang
berpuasa sehingga dia berbuka, dan doa mereka yang dizalimi…
 
Rasulullah s.a.w juga mengajarkan cara berdoa ketika berbuka puasa. Berikut
adalah  doa yang baik untuk dibacakan oleh kita sebagai memenuhi
tuntutan  ittiba’ al-Sunnah. Imam al-Darulqutni menilai sanad hadith ini
sebagai  hasan. Doa tersebut adalah:
ذهب الظماء وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله تعالى
Telah hilang kehausan, telah basah urat-urat dan telah ditetapkan pahala-pahala insyaAllah.
 
Marilah sama-sama kita berpuasa sepertimana puasanya Rasulullah s.a.w dan para
sahabat yang mulia. Semoga puasa kita pada tahun ini mampu mengubah
dimensi hidup kita yang bercerminkan sunnah Rasulullah dalam beribadat.
Perbanyakkanlah membaca al-Quran dan berzikir, nasihat menasihati serta
berdakwah kepada Islam. Jadikan ramadhan kali ini penuh makna untuk
diri  kita dan masyarakat. Wallahu A’lam.
 

Jumaat, 20 Julai 2012

Bilakah Malam Lailatulqadar?

10 akhir Ramadhan adalah merupakan di antara malam-malam yang penuh dengan keberkatan dan kelebihan yang tertentu. Malam-malam ini adalah merupakan malam yang ditunggu-tunggu oleh seluruh orang mukmin. 


Bulan Ramadhan, Al Quran dan malam Lailatulqadar mempunyai hubungan yang rapat antara satu sama lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Allah dan hadis Rasulullah s.a.w. di antaranya firman Allah s.w.t.
Maksudnya: "Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam Lailatulqadar dan apakah yang menyebabkan engkau mengerti apa itu Lailatulqadar. Lailatulqadar lebih baik daripada 1000 bulan. Pada malam itu, para malaikat dan Jibril turun dengan keizinan daripada Tuhan mereka untuk setiap urusan. Malam ini sejahtera hingga terbit fajar".

Sebab turun surah al-Qadr
Lailatulqadar mempunyai kelebihan yang begitu besar. Ianya lebih baik dari 1000 bulan yang lain. Sebab diturunkan ayat tersebut diriwayatkan daripada Mujahid dikatakan sebab turun ayat tersebut ialah Nabi s.a.w. telah menyebut tentang seorang lelaki daripada Bani Israel yang telah menggunakan alat senjatanya untuk berperang pada jalan Allah maka orang Islam pun kagum di atas perbuatan itu lalu Allah menurunkan ayat di atas. 

Riwayat yang lain pula dari Ali bin Aurah pada satu hari Rasulullah telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikitpun tidak derhaka kepada Allah lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah bahawa Allah w.s.t. menurunkan yang lebih baik dari amalan mereka. Jibril pun membaca surah Al Qadar dan Jibril berkata kepada Rasulullah ayat ini lebih baik daripada apa yang engkau kagumkan ini menjadikan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat amat gembira.

Daripada ayat di atas dapatlah kita ketahui bagaimana besar kelebihan orang yang beribadah pada malam lailatulqadar. Ianya satu malam menyamai beramal 1000 bulan.

Dalam hadis Rasulullah s.a.w. menyebut
Maksudnya: "Rasulullah bersungguh-sungguh beribadah pada 10 akhir bulan Ramadhan lebih daripada yang lainnya"
Rasulullah s.a.w. melakukan ibadah pada malam itu bukan hanya setakat baginda sahaja tetapi baginda menyuruh ahli keluarga bangun bersama beribadah. Kata Aisyah r.a.
Maksudnya: "Nabi s.a.w. apabila masuk 10 akhir bulan Ramadhan baginda mengikat kainnya. Menghidupkan malam dengan beribadah dan membangunkan keluarganya untuk sama-sama beribadah. Mengikat kainnya bermaksud bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah."

Kelebihan Menghayati Malam Lailatulqadar
Kerana mulianya Lailatulqadar, Rasulullah s.a.w. menganjurkan supaya umatnya bersedia menyambut dan menghayati malam yang berkat itu dengan pelbagai jenis amalan dan ibadah yang diterangkan di antaranya hadis yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.
Maksudnya: "Barangsiapa menghayati malam Lailatulqadar dengan mengerjakan sembahyang dan berbagai jenis ibadat yang lain sedang ia beriman dan mengharapkan rahmat Allah taala nescaya ia diampunkan dosanya yang terdahulu. 

Rasulullah s.a.w. sendiri menjadi contoh yang baik yang menghayati malam lailatulqadar terutama 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan dengan beriktikaf di Masjid mengerjakan pelbagai amal ibadah untuk menyambut malam Lailatulqadar yang mulia.
Ini diterangkan di dalam satu hadis diriwayatkan daripada Aishah r.a. Katanya:
Maksudnya: "Biasanya Rasulullah s.a.w. berusaha dengan bersungguh-sungguh memperbanyakan amal ibadah pada 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan berbanding dengan masa yang lain."

Dalam hadis yang lain Aishah juga meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda bersedialah dengan bersungguh-sungguh untuk menemui malam Lailatulqadar pada malam-malam yang ganjil dalam 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan.

Malam-malam yang ganjil yang tersebut ialah malam 21, 23, 25, 27 & 29 dari bulan Ramadhan. Dalam pada itu terdapat juga beberapa hadis yang menyatakan bahawa malam Lailatulqadar itu pernah ditemui dalam zaman Rasulullah s.a.w. pada malam 21 Ramadhan. Pernah juga ditemui pada malam 23 Ramadhan. 

Terdapat juga hadis yang mengatakan bahawa baginda Rasulullah s.a.w. menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya mengenai masa Lailatulqadar supaya ianya bersedia dan menghayatinya. Baginda menjelaskan malam Lailatulqadar itu adalah malam 27 Ramadhan. Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa malam Lailatulqadar itu berpindah dari satu tahun ke satu tahun yang lain di dalam lingkungan 10 malam yang akhir dari bulan Ramadhan. 

Yang pastinya bahawa masa berlakunya malam Lailatulqadar itu tetap dirahsiakan oleh Allah s.w.t. supaya setiap umat Islam menghayati 10 malam yang akhir daripada Ramadhan dengan amal ibadat. Kerana dengan cara itulah sahaja mudah-mudahan akan dapat menemuinya dan dapat pula rahmat yang diharapkan yang akan menjadikan seseorang itu hidup bahagia di dunia mahupun di akhirat.

Doa khusus di Malam Lailatulqadar
Doa tersebut diterangkan di dalam hadis berikut 

1. Hadis yang diriwayatkan daripada Aishah r.a.
Maksudnya: "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. bagimana kiranya saya mengetahui malam Lailatulqadar dengan tepat. Apa yang saya akan doakan pada saat itu. Baginda menjawab berdoalah dengan doa yang berikut" 
 Maksudnya: "Ya Allah ya Tuhanku sesungguhnya engkau sentiasa memaafkan salah silaf hamba lagi suka memaafkan oleh itu maafkanlah salah silafku. 

Terdapat juga beberapa doa yang disar ankan oleh para alim ulamak kita melakukannya seperti membaca doa.

Orang yang beribadah pada 10 malam yang tersebut akan mendapat rahmat yang dijanjikan dan telah sabit di dalam hadis-hadis yang sahih bahawa malam Lailatulqadar ujud pada salah satu malam yang 10 itu terutama pada malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Orang-orang yang tekun beribadah di dalam masa tersebut untuk menemui malam Lailatulqadar akan mendapat rahmat yang dijanjikan itu samada ia dapat menemui atau tidak dan tidak melihat apa-apa kerana yang penting yang tersebut di dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim ialah:

1. Menghayati malam tersebut dengan beribadah.
2. Beriman dengan yakin bahawa malam Lailatulqadar itu adalah benar dan dituntut menghayatinya dengan amal ibadah.
3. Amal ibadah itu dikerjakan kerana Allah semata-mata dengan mengharapkan rahmatnya dan keredaannya.
Adalah diharapkan sebelum daripada kita beramal ibadat di malam Lailatulqadar hendaklah kita bertaubat dengan sebenar-benarnya iaitu taubat nasuha dan terus beristiqamah tetap teguh mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala larangannya.

Tanda Malam Lailatulqadar
Para alim ulamak r.h. menyebutkan beberapa tanda atau alamat berhubung dengan malam Lailatulqadar:
- Ada yang berkata orang yang menemui malam Lailatulqadar ia melihat nur yang terang benderang di segenap tempat hingga di segala cerok yang gelap gelita.
- Ada pula yang berkata ia mendengar ucapan salam dan kata-kata yang lain dari Malaikat.
- Ada juga yang berkata ia melihat segala benda termasuk pohon-pohon kayu rebah sujud.
- Ada pula yang berkata doa permohonannya makbul.
Imam Tabari r.h. memilih kaul yang menegaskan bahawa semuanya itu tidak lazim dan tidak semestinya ia dapat melihatnya kerana tidak disyaratkan melihat sesuatu atau mendengarnya untuk menemui malam Lailatulqadar.

Arkib Blog

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sociable